Tittle: Snow Hug
Scriptwriter: leeunra
Main Cast:
-
Goo Hara Kara
-
Kim Kibum (Key) SHINee
Support Cast:
-
Goo Li Ra
-
Park Hyun Soo
Member SHINee
Genre: Romance
Warning:
Fanfict ini hanyalah cerita Fiksi belaka. Jadi jangan bash ataupun fanwar.
Don't Be Plagiator
Duration: Twoshoot
Rating: Teen
Summary:
“Nu—gu—ya?”
“Kau tidak
perlu tau, Noona. Jeongmal Saranghae”
***
Fanfic ini ff twoshot pertama yang author
publish disini. Thor itu dari dulu bercita-cita jadi sastrawan. Jadi Thor
pengen mulai dari sekarang, yaitu buat FF. sebenernya Thor lagi buat novel
sekarang, tapi tentu aja diimbangi FF yang seru. FF ini hasil dari otak Thor
sendiri. Gak ada plagiat ataupun terinsprirasi. Cuman, keluar aja ide-ide kayak
gini.
Happy Reading ^^
***
Aku suka Salju…
Muncul tiba-tiba sepertimu
Terkadang aku tidak mengetahuinya
Setelah itu aku akan selalu mencarimu
Mencari dan mencari
Sampai aku menemukanmu,
Salju…
***
Ruang Keluarga
-Goo House Family-
13 December 2012
Author POV
“Noona Neomu Yeppeo…” muncul suara
dari Televisi yang menyala-nyala memancarkan sinarnya, dengan serius Hara mengikuti
gerakan demi gerakan yang ada di Televisi itu. Suara semakin keras, ya, karena
Hara mengeraskan volumenya.
“Goo Hara~” teriak Li Ra dalam kamarnya.
“Nde eonni?” tanya Hara tanpa memalingkan
matanya pada Televisi.
“Aku kan sudah katakan, satu minggu lagi
kau harus mengikuti Tes Bakat di sekolah!” seru Li Ra.
“Nde eonni aku tau itu sejak dulu” jawabnya
santai tanpa memalingkan pandangannya sekarang.
“Omo~ kau latihan?” tanya Li Ra dengan
suara biasa, tampak sangat berbeda saat ia berseru keras dan berteriak
melengking—dapat menghancurkan benda kaca yang ada disekitarnya.
Hara pun berhenti, lalu memandang Li Ra
dengan wajah lelah. Lalu mengelap peluh yang bercucuran di pelipisnya serta
di-dahinya. “Sekali-kali, eon. Aku ingin refreshing, bukan terus-menerus
dipaksa latihan setiap hari setiap saat” jawab Hara dengan nafas tersenggal.
“Wae kau melihat video SHINee?
Bukankah kau membenci mereka? Bahkan sampai berkelahi dengan Shawol” ucap Li Ra
lalu menyodorkan botol air putih dingin.
“Eonni, aku sedang banyak pikiran
sekarang…” jawab Hara sekenanya, karena dia benar-benar lelah.
“Kau menyukai salah satu dari mereka?”
tanya Li Ra lalu mengangkat satu alisnya.
“Aniya~” jawab Hara memanjangkan
jawabannya.
“Jincha?” tanya Li Ra memicingkan matanya.
“Aniya eon~” jawab Hara mengulangi
jawabannya tadi.
“Tapi kau terlihat aneh. Kau membenci
mereka, tetapi menggunakan lagu mereka untuk refreshing, sungguh mencurigakan”
ucap Li Ra bak detektif professional.
“Ani, hanya saja aku masih bingung soal
kemarin,” ucap Hara menunduk lalu mengingat kejadian kemarin—katanya.
“Kejadian kemarin? Kejadian apa? Oh, apa
kau dicium mereka? Oh, atau kau berkelahi lagi dengan mereka? Oh, oh, coba kutebak
lagi, apa mereka saling berebut dirimu?” tanya Li Ra tanpa jeda sedikitpun dari
kata-katanya—lebih tepatnya tidak perlu ‘tanda tanya’.
“Eonni~ jangan berfikir yang aneh-aneh
deh!” ucap Hara kesal melihat tingkah Li Ra yang sangat membosankan—baginya.
Lalu meninggalkan Li Ra sendiri didepan Televisi yang masih menyala.
“Aku akan mengatakan ini semua pada Jinki~”
teriak Li Ra dari luar kamar Hara.
Sontak Hara langsung membuka pintu dan
melakukan adegan ‘smirk’ pada Li Ra. “Eonni~ jangan katakan itu~ aku tidak
pernah menyukai satupun dari mereka!” teriak Hara lalu menyerbu Li Ra yang
duduk santai di sofa.
Kantin
-Sworlt High School-
14 December 2013
Hara POV
“Jeongmalyo~?” tanyaku dengan suara
tertekan karena kaget mendengar ucapan dari Hyun Soo.
“Tapi kau tau siapa namja itu?” tanyaku
lagi.
Raut wajahku yang tadi penuh rasa penasaran
berubah datar dan kecewa. Karena Hyun Soo menggeleng pelan.
Dialah namja yang sangat kucintai. Aku
adalah temannya. Ya, sebatas teman. Tidak lebih, dan kupikir tidak akan pernah
lebih. Dan dia tidak pernah merasakannya—lebih tepatnya aku adalah ‘pengagum
rahasia’ sejak kelas 11.
“Goo
Hara” panggil seseorang. Suaranya sangat kukenal, Lee Jinki—lebih akrab
dipanggil Onew. Dialah penyebab aku membenci SHINee. Didukung aksi ‘taekwondo’
dari Minho.
“Wae?” tanyaku santai lalu memicingkan
mataku tajam.
“Tak kusangka, kau menyukai satu dari
kami?” tanya Onew mengeluarkan ‘smirk’ tak kalah menakutkan dariku.
“Mwo?!” ucapku dengan nada tertekan. “Aish,
pasti Li Ra eon” gumamku kecil. “Ekm, sepertinya kau salah dengar” ucapku mulai
berdiri merasa tertantang olehnya.
“Kau bisa dan harus memanggilku ‘oppa’.”
Ucap Onew dengan nada merendahkan.
“Mwo? Oppa? Oh, sepertinya kau lebih pantas
dipanggil ‘anak bebek’.” Ucapku tak kalah merendahkan.
“Ah, terserahmu. Aku sedang tidak mood
bertengkar denganmu. Sekarang katakan saja siapa yang kau sukai dari kami!”
ucap Onew meninggikan suaranya.
“Aku kan sudah katakan bahwa aku membenci
SHINee!” ucapku dengan nada tinggi serta tanpa jeda sedikitpun—persis kebiasaan
Li Ra eonni.
“MWORAGO~” teriak histeris para Shawol.
“Cih,” aku memicingkan mataku pada para
Shawol yang mengelilingiku serta SHINee itu. “Aku bilang ‘AKU MEMBENCI
SHINEE’!!” ulangku dengan suara yang lebih keras sampai Hyun Soo yang
dibelakangku—dapat kurasakan dia sedang menutup telinganya akibat suaraku yang
melengking—seperti teriakan Li Ra eonni.
“Kau mau bertengkar lagi dengan kami, hah!”
ucap salah seorang Shawol wanita dengan tubuh yang gemuk dan pipi yang
menggembung—seperti banyak makanan dikedua pipinya.
“Aish, aku sedang tidak mau bertengkar
dengan kalian semua” ucapku pada Shawol. “Dan kau! Onew! Jangan pernah
mengulangi pertanyaan bodoh tadi!” ucapku mengalihkan pandanganku pada Onew
yang berdiri—menampakkan wajah datar khasnya.
Aku segera pergi meninggalkan kantin saat
itu juga.
“Goo” panggil seseorang. Aku mengabaikannya
dan terus berjalan secepat yang aku bisa. “HARA!!” lalu namja bersuara itu
menarik pundakku sehingga aku terpaksa berhenti.
Aku berbalik badan dengan malas, “Mwo..”
aku menekan kata-kataku, setelah mengetahui Hyun Soo dengan wajah murka sedang
dihadapanku. “Mwoya!” entah darimana keberanian membentak Hyun Soo—orang yang
sangat kucintai.
“Kenapa kau melakukan itu?” tanyanya masih
mempertahankan wajah murkanya—yang setiap orang melihatnya akan lari
ketakutan—tidak denganku, aku terpaku tak berani menatap wajahnya yang setiap
saat selalu kuanggap tampan.
“Melakukan apa? Aku tidak melakukan apapun”
ucapku sambil mengangkat bahuku.
“Kau bilang tidak melakukan apapun? Kau
tau, kau sangat memalukan. Kau bahkan tidak peka bahwa ada orang yang
mencintaimu sedang melihatmu dengan tatapan kecewa, bahwa kau membencinya,
bahkan amat membencinya” ucap Hyun Soo panjang seakan menyalahkanku.
“Mwo? Jadi kau menyalahkanku? Kau bahkan
tidak memberitauku siapa namja itu, aku tau kau bohong, Hyun. Aku tau kau pasti
mengetahui siapa namja yang menyukaiku tersebut, tapi kau berkata bahwa kau
tidak tau siapa namja itu. Aku berharap kau masuk neraka sekarang juga, karena
kau telah menjadi pengkhianat, andai saja namja yang menyukai itu langsung
melihat ini, sungguh menyedihkan sekali ya!” ucapku panjang lebar tanpa
jeda—lagi-lagi seperti Li Ra eonni.
“Terserahlah, intinya adalah, KAMU GAK
PERNAH PEKA!”
Mataku terbelalak mendengarkan kata-kata
sederhana itu. Rasanya sangat menusuk, bahkan menembus hatiku. Hatiku serasa
dikoyak dan dihancurkan berkeping-keping. Baru saat dan kali ini, Hyun Soo,
membentakku. Ya, dia membentakku, dengan sangat keras dan kasar. Aku, aku ingin
sekali membalasnya.
“Kau yang tidak peka, Hyun” ucapku lirih
seraya tertunduk. Aku tau Hyun Soo kemungkinan besar tidak akan tau, karena dia
pasti sudah pergi.
Akupun segera berlari menuju kelas.
Lorong Kelas 12
-Sworlt High School-
“Kau yang tidak peka, Hyun. Aku itu sangat
mencintaimu, kau tidak pernah menyadari itu. Kau tidak pernah dan tidak akan
pernah menyadarinya. Aku jadi semakin benci dirimu! Benci! Benci!” ucapku
berulang-ulang ditengah Lorong kelas 12. Disini tidak ada siapapun, ya, kelas
12 sedang ada kunjungan diluar sekolah.
“Hara~” panggil seorang namja. Suara itu
menggema dalam lorong ini. Saat menggema melewati telingaku, rasanya tubuhku
gemetar, aku merasakan suara manis itu, Nugu?
Aku segera menoleh, “Key? Waeyo?” tanyaku
padanya, sedikit lembut, karena suaranya yang membuatku tenang.
“Ehm…” dia bergumam sebentar,
mempertimbangkan apa yang akan dia katakan. “Apa kau menyukai Hyun Soo?”
tanyanya kemudian.
Aku tersentak, aku diam sejenak, berfikir,
apa yang harus kujawab. “Memang kenapa?” tanyaku kemudian, tanda mengiyakan.
Key terlihat tertunduk, “Aniya, gwenchana”
ucapnya seraya pergi meninggalkanku sendiri di Lorong ini.
“Key!” panggilku.
“Ne, noona?” tanyanya berbalik badan
menunjukkan wajah cerianya lagi.
“Apa kau tau siapa namja yang muncul
kemarin lusa?” tanyaku dengan wajah serius, mendekati Key agar jelas mendengar
jawabannya.
Dia tampak tertunduk lagi. Aku bingung,
mungkin dia sama dengan Hyun Soo. Tidak mau memberitau siapa.
Itu lebih baik dari Hyun Soo, “Baiklah,
kalau kau tau, tolong ucapkan banyak terima kasih padanya” ucapku demikian. Aku
tidak akan membiarkan sosok Key yang ceria, ramah, dan baik menjadi namja yang
pembohong seperti Hyun Soo. Jadi, aku harus cepat berbicara sebelum Key
berbohong.
“Ne, Noona” ucapnya lalu pergi lagi tanpa meninggalnya sapaan.
***
-Relacty Café-
16 December 2012
Aku memegang gelas. Lalu memandang keluar,
melihat turunnya salju yang amat lebat. Aku kembali mengingat kejadian yang 4
hari yang lalu.
#FLASBACK ON#
Salju turun sangat lebat. Hara
menghangatkan badannya di seberang Café Favoritenya, dan berdiri di bawah
pohon, meminta pelukan hangat dari sang pohon. Tapi pohon tak bergidik, pohon
itu sendiri sedang berusaha melindungi anak daunnya dari salju yang lebat nan
dingin.
Hara pun merapatkan jaketnya yang tebal,
memasukkan jari-jemarinya—yang terbalut sarung tangan—kedalam saku jaketnya. Ia
mengingil seraya menggertakkan giginya, beberapa kali bibirnya yang sudah
membiru itu tergigit pasangan giginya, ia tak merasakannya, dirasa ia sedang
matirasa sekarang.
“Noona!” panggil sebuah suara. Suara yang
menenangkan Hara saat itu. Hatinya yang dibalut dinginnya salju. Namja itu
memeluk erat tubuh Hara yang lebih pendek tapi tak jauh. “Wajahmu pucat, kita
harus segera pergi ke dokter” ucap namja itu setelah melihat wajah Hara yang
pucat bak mayat hidup—bibirnya biru, kulitnya putih pucat, matanya tertutup,
giginya menggertak tak menentu.
“Andweyo. Aku butuh pelukan hangat” ucap
Hara membuka matanya sedikit, mata birunya itu memancarkan suatu permohonan
besar.
Akhirnya namja itu pun kembali memeluk Hara
yang masih kedinginan.
“N—nugu—ya?” tanya Hara terbata-bata akibat
giginya yang tidak dapat dikendalikan.
“Kau tidak perlu tau, Noona. Jeongmal
Saranghae” ucapnya seraya memeluk lembut dan mengelus-elus rambut Hara yang
sebagian tertutup topi hangat.
Hara menyembunyikan wajahnya yang pucat
kedalam dada Namja itu. Dan dia merasa lebih baik jika mendengar suaranya,
“Kau, bisakah kau menyanyi untukku?” tanya Hara mendongak sedikit.
“Aku akan melakukan apapun untukmu,
Noona” ucap Namja itu kembali
mengelus-elus rambut Hara dan membiarkan kepalanya bersandar pada dadanya. Lalu
Namja itu mulai menyanyi merdu, membuat jiwa dan tubuh Hara tenang. Dia merasa
sangat bahagia, tiba-tiba giginya sudah berhenti, salju mulai mereda.
#FLASHBACK OFF#
Aku mendengus panjang. “Nuguya..” gumamku
lirih memandang kosong keluar Café. Lalu aku terpikir ide yang bagus. Aku
tersenyum lebar saat Ide sangat bagus keluar dari benakku. Aku berjalan
perlahan keluar Café. Berpura-pura tidak melihat kanan-kiri, hanya melirik
sedikit, awalnya aku hanya menengadahkan tanganku dan membiarkan salju turun di
telapak tanganku, sambil memastikan adakah namja yang memiliki tinggi dan
bentuk badan yang khas, serta rambutnya, apalagi suaranya.
“Gomawo, Jonghyun” ucap sebuah suara.
Oh, dia ada! Gumamku keras.
Aku langsung mengalihkan pandanganku
membelakanginya. Bisa kurasakan namja itu berhenti memperhatikan punggung dan
rambutku yang bergelombang khas. Aku tidak memakai topi hangat, tidak memakai
sarung tangan, dan itu kusengaja.
Aku segera berakting merasakan dinginnya
serpihan salju yang jatuh dikepalaku. Dan itu memang benar-benar dingin. Aku
segera menyebrang, lalu berdiri di depan pohon yang beberapa hari lalu
kutempati.
Aku segera mencari sarung tanganku, bukan
bagian dari acting, tetapi ini benar-benar dingin, aku tidak bisa menahannya.
Aku mencari dan mencari, lalu akhirnya kutemuka sebelah. “Kemana sebelahnya?”
tanyaku. Aku mencari dibawah tubuhku, barangkali jatuh dibawahku. Tapi tak ada.
“Aish,” aku mendengus kesal. Lalu aku mengingat lagi dimana aku menaruh sarung
tangan keduanya sebelum kumasukkan tas. “Café!” ucapku sedikit berteriak. Lalu
segera menutup mulutku.
Aku berdiri di pinggir jalan. Oh, jalanan
ramai sekali. Aku harus cepat mengambilnya sebelum salju tidak lebat lagi.
Jonghyun POV
Aku berdiri didepan mobil. Bersenandung
merdu. Lalu pandanganku tertuju pada seorang gadis yang terlihat kebingungan
cara menyebrang. Aku ingin membantunya, tapi, setelah tau siapa gadis itu—Goo
Hara—ku kurung niatku itu.
Pandanganku berpindah pada Key yang mencoba
menyebrang juga. Ah, aku sudah tau, pasti Key yang mau membantu Hara
menyebrang. Setelah salah satu jalur sepi, Key segera mengambil sarung tangan
yang hanya sebelah. Lalu kupandangi lagi, Goo Hara yang sedang kebingungan—juga
sedang membawa sebelah sarung tangan.
Key segera membersihkan sarung tangan itu.
Aku hanya memperhatikan Goo Hara—yang tiba-tiba menyebrang tanpa melihat apa
yang akan menciumnya.
Aku segera berlari dan mendorong gadis itu
menuju tepi.
Aku mencoba membuka mataku, aku memandangi
wajah Hara yang tidak ada luka. Jarak wajah kami hanya 8 Centi Meter.
Sret…
Key menarik bahuku dan menjauhkan tubuhku
pada Hara. “Ya! Apa-apaan kau ini, Jong? Kau tau kan pasti akan ada yang
cemburu!” bentak Key tak terima.
Aku segera berdiri dan membantu Hara untuk
berdiri juga. Wajahnya terlihat bingung, “Mianhamnida, Goo Hara” ucapku lalu
membungkuk sopan.
“Kau tidak papa, Jong?” tanya Hara
memperhatikan tubuhku yang berbalut jaket tebal dan celana yang jeans berbahan
hangat.
“Ah, Gwenchana, Hara” jawabku lalu mundur
satu langkah.
“Noona, ini sarung tanganmu” ucap Key lalu
memberikan sarung tangan yang terjatuh di tengah jalan tadi. “Tadi sempat kotor
karena terlindas roda mobil seseorang” jelasnya singkat.
“Gomawo, Key” Hara tersenyum ramah. Entahlah,
kupikir itu adalah senyum paling ramah dan manis yang pernah Hara berikan pada
seseorang. Aku tau dia seperti apa dihadapan kami—SHINee.
***
Ruang Kelas 12-A
-Sworlt High School-
17 December 2012
Author POV
Hara duduk mengayunkan kedua kakinya. Dia
sibuk mencatat sesuatu. “Baiklah, rapat dimulai” ucapnya sendiri. Bangkunya ada
dibelakang, jadi tidak masalah jika dia berisik disana. “Pertama, O-n-e-w”
ucapnya lagi mengeja tulisannya. “Tidak ada yang mencurigakan” ucapnya
kemudian. Lalu menulis huruf ‘X’ disebelah nama ‘Onew’.
“Hara!” panggil seseorang. Hara mengalihkan
pandangan lalu memperhatikan yeoja berambut ikal itu menuju dirinya.
“Mwoya, eon? Aku sedang sibuk sekarang!”
ucap Hara lalu mengetuk polpen ke buku catatannya.
“Onew! Onew!” teriak histeris Li Ra dengan
wajah ‘sumigrah-nya.
“Wae Onew?” tanya Hara.
“Barusan dia meminta nomormu!” ucapnya
pelan tapi terkesan sangat senang.
“Mwoya!” teriak Hara. Lalu memandangi buku
catatannya yang nyaris kosong, “Sepertinya aku harus mencoret tanda ini”
ucapnya lalu mencoret tanda ‘X’ pada nama ‘Onew’.
“Ahahahaha~” tawa Li Ra setelah melihat
buku catatan Hara. “Goo Hara, saengku yang sangat kusayang, kenapa kau
segitunya memikirkan namja saljumu itu?” ucap Li Ra diselangi tawaan kecilnya.
“Ini penting, eonni! Aku suka suaranya yang
selalu membuatku tenang, aku suka…” ucapku lalu memelankan suaraku ketika Hyun
Soo melewati bangkuku.
“Hahaha~ aku akan membantumu, saeng. Tenang
saja, coba kau tulis statusmu dengan mereka, seperti hanya teman, atau teman
curhat, dan yang lain” jelas Li Ra eonni mengambil kursi lalu duduk didepanku.
“Ah, itu benar! Pertama, Onew. Yang
mencurigakan hanya tadi, tapi itu tidak mungkin dia! Aku tau suaranya itu
bagus, tapi, suaranya bagaikan petir menyambar bukan menenangkanku, lagipula
dialah penyebab aku membenci SHINee!” jelasku panjang lebar.
“Ehm, kau tau kan, ada pepatah mengatakan
‘benci jadi cinta’. Dan itu bisa terjadi pada kau dan Onew!” ucap Li Ra sambil
mengacung-acungkan jari telunjuknya—mengingat kata-kata pepatah tersebut.
“Aish, lanjut saja dulu!” ucap Hara benci.
“Kedua Jonghyun” ucap Hara. Dia langsung mengingat tragedi kemarin. “Dia juga
mencurigakan,” ucap Hara.
“Mencurigakan? Jincha?” tanya Li Ra.
Hara mengangguk. Lalu menceritakan kejadian
kemarin didepan Relacty Café. Tapi dengan suara pelan, supaya tidak ada yang
mendengar, kalaupun bangkunya dibelakang, banyak yang melewati
bangkunya—tepatnya disebut patokan bangku.
“Jadi kau hampir dicium Jong…” Li Ra
berteriak tapi sebelum melanjutkan kata-katanya, tangan Hara segera membekap
eonninya—yang terkenal heboh itu.
“Eonni!!” teriak Hara kesal.
“Eoh, mian-mian” ucap Li Ra akhirnya. “Kau
benar-benar mengalamaniya? Oh, benar-benar menakjubkan!” ucap Li Ra kembali
heboh.
“Eonni, aku serius!” ucap Hara semakin
bosan.
“Kau serius? Jincha? Jeongmal? Wah,
andaikan aku jadi dirimu, dan Jonghyun berubah menjadi Minho, oh aku akan
segera menariknya dan membiarkannya menciumku” ucap Li Ra membayangkan hal.
“Ish, eonni, kau benar-benar pengimajinasi
paling bodoh yang pernah kukenal” ucap Hara lalu memandangi keluar jendela.
“Apa katamu?” tanya suara khas Minho dari
luar jendela.
“Oh~” Hara dan Li Ra segera menutup mulut
mereka. “Aniya, gwenchana!” ucap Hara kemudian. Segeralah Minho pergi dari
pandangan mereka. Lalu Hara dan Li Ra berpandangan, “Eonni, itu masalahmu” ucap
Hara lalu segera menulis lagi.
“Selanjutnya, siapa? Key?” tanya Li Ra.
“Ah, entahlah aku tidak tau siapa yang
lebih tua” ucap Hara menulis nama ‘Key’. “Kurasa dia berperan penting.
Sepertinya dia tempat curhat namja itu, karena, saat kutanya dia tau atau
tidak, dia tidak menjawab, kedua, tragedi kemarin, aku masih ingat dia
mengatakan ‘Kau tau kan akan ada yang cemburu!’ dengan tegas kepada Jonghyun”
jelas Hara panjang.
“Benar juga, kita perlu menyelidikinya
lebih lanjut” ucap Li Ra menyuruh Hara menulis alasan itu. “Selanjutnya Minho.
Kurasa kau tidak ada hubungannya dengannya, lewati sajalah!” ucap Li
Ra—seakan-akan dirinya adalah tunangan Minho.
“Aish, siapapun dia, walaupun tidak ada
hubungannya pun kita harus menyelidiki, eonni!” ucap Hara ketus.
“Baiklah, baiklah. Masih belum terbukti,
maka, lanjut pada Taemin saja!” ucap Li Ra.
Hara mendengus kesal, “Ne. kurasa aku juga
tidak ada hubungan dengan Taemin. Hanya saja, dulu aku adalah tempat curhatnya,
dan dia pernah curhat padaku bahwa dia menyukai seorang yeoja, yang jelas itu
bukan aku” ucap Hara langsung.
“Hmm… baiklah, hanya tiga orang yang
dicurigai. Rapat selesai!” ucap Li Ra menutup rapat kecil mereka.
“Gamsha eonni sudah membantuku” ucap Hara.
“Ne. kajja ke kantin” ajak Li Ra.
Hara segera memasukkan seluruh pelaratannya
kedalam tas, lalu mengikuti Li Ra.
Tiba-tiba Hyun Soo lewat sambil
bersenandung merdu. Hara tak mempedulikannya, hanya terus memperhatikan lurus
kedepan. Hara baru menyadari sesuatu segera menoleh dan memperhatikan punggung
Hyun Soo yang menjauh, “Lagu itu” ucap Hara.
Li Ra ikutan menoleh, “Mwo? Lagu apa?”
tanya Li Ra bingung.
“Lagu yang dinyanyikan Hyun Soo barusan
adalah lagu namja itu saat dia menyanyikannya untukku!” jelas Hara lebih
lanjut.
“Kurasa dia perlu dimasukkan buku catatan
juga,” ucap Li Ra sambil mengangguk-angguk.
TBC~
Aneyong, masih banyak typo disini.
Maklum-lah, author kan pembuat ff baru. Jadi
mohon maklum ya. Di shoot yang pertama ini dibuat panjang, karena author
nyari adegan biar nanggung gitu. Hehehe, biar banyak yang nungguin deh jadinya.
FF ini kutujukan untuk eonniku. Yang menjadi peran Goo Li Ra disini. Ya, aku
tau dia adalah Fans Choi Minho SHINee. Sekalian saja, kuperankan cukup penting.
Oiya, disini Author anggep kalo Key, Jonghyun, dan yang selain Onew lainnya itu
umurnya dibawah Hara. Jadi Key manggilnya Noona, sementara Jonghyun enggak,
soalnya Jonghyun ceritanya gak tau kalo dia lebih muda dari Hara.
Author sengaja buat cast SHINee. Ya,
sekali-kali-lah. Pengennya sih EXO, tapi karena orangnya kebanyakan, nanti
ber-chapter deh jadinya, haha. Oke, tinggalkan komentar ya, tolong kritik dan
sarannya.
Ini Fanfict sebenernya udah selesai, jadi 3 hari lagi Author share yang Shoot kedua ^^
Gomawo udah membaca =)







0 komentar:
Posting Komentar