RSS

[TWOSHOOT] Snow Hug (Shoot 1)



Tittle: Snow Hug
Scriptwriter: leeunra
Main Cast:
-          Goo Hara Kara
-          Kim Kibum (Key) SHINee
Support Cast:
-          Goo Li Ra 
-          Park Hyun Soo 
Member SHINee
Genre: Romance
Warning:

Fanfict ini hanyalah cerita Fiksi belaka. Jadi jangan bash ataupun fanwar.
Don't Be Plagiator

Duration: Twoshoot
Rating: Teen
Summary:

“Nu—gu—ya?”

“Kau tidak perlu tau, Noona. Jeongmal Saranghae”

***
Fanfic ini ff twoshot pertama yang author publish disini. Thor itu dari dulu bercita-cita jadi sastrawan. Jadi Thor pengen mulai dari sekarang, yaitu buat FF. sebenernya Thor lagi buat novel sekarang, tapi tentu aja diimbangi FF yang seru. FF ini hasil dari otak Thor sendiri. Gak ada plagiat ataupun terinsprirasi. Cuman, keluar aja ide-ide kayak gini.
Happy Reading ^^

***

Aku suka Salju…

Muncul tiba-tiba sepertimu

Terkadang aku tidak mengetahuinya

Setelah itu aku akan selalu mencarimu

Mencari dan mencari

Sampai aku menemukanmu,

Salju…

***

Ruang Keluarga
-Goo House Family-
13 December 2012

Author POV

Noona Neomu Yeppeo…” muncul suara dari Televisi yang menyala-nyala memancarkan sinarnya, dengan serius Hara mengikuti gerakan demi gerakan yang ada di Televisi itu. Suara semakin keras, ya, karena Hara mengeraskan volumenya.

“Goo Hara~” teriak Li Ra dalam kamarnya.

“Nde eonni?” tanya Hara tanpa memalingkan matanya pada Televisi.

“Aku kan sudah katakan, satu minggu lagi kau harus mengikuti Tes Bakat di sekolah!” seru Li Ra.

“Nde eonni aku tau itu sejak dulu” jawabnya santai tanpa memalingkan pandangannya sekarang.

“Omo~ kau latihan?” tanya Li Ra dengan suara biasa, tampak sangat berbeda saat ia berseru keras dan berteriak melengking—dapat menghancurkan benda kaca yang ada disekitarnya.

Hara pun berhenti, lalu memandang Li Ra dengan wajah lelah. Lalu mengelap peluh yang bercucuran di pelipisnya serta di-dahinya. “Sekali-kali, eon. Aku ingin refreshing, bukan terus-menerus dipaksa latihan setiap hari setiap saat” jawab Hara dengan nafas tersenggal.

“Wae kau melihat video SHINee? Bukankah kau membenci mereka? Bahkan sampai berkelahi dengan Shawol” ucap Li Ra lalu menyodorkan botol air putih dingin.

“Eonni, aku sedang banyak pikiran sekarang…” jawab Hara sekenanya, karena dia benar-benar lelah.

“Kau menyukai salah satu dari mereka?” tanya Li Ra lalu mengangkat satu alisnya.

“Aniya~” jawab Hara memanjangkan jawabannya.

“Jincha?” tanya Li Ra memicingkan matanya.

“Aniya eon~” jawab Hara mengulangi jawabannya tadi.

“Tapi kau terlihat aneh. Kau membenci mereka, tetapi menggunakan lagu mereka untuk refreshing, sungguh mencurigakan” ucap Li Ra bak detektif professional.

“Ani, hanya saja aku masih bingung soal kemarin,” ucap Hara menunduk lalu mengingat kejadian kemarin—katanya.

“Kejadian kemarin? Kejadian apa? Oh, apa kau dicium mereka? Oh, atau kau berkelahi lagi dengan mereka? Oh, oh, coba kutebak lagi, apa mereka saling berebut dirimu?” tanya Li Ra tanpa jeda sedikitpun dari kata-katanya—lebih tepatnya tidak perlu ‘tanda tanya’.

“Eonni~ jangan berfikir yang aneh-aneh deh!” ucap Hara kesal melihat tingkah Li Ra yang sangat membosankan—baginya. Lalu meninggalkan Li Ra sendiri didepan Televisi yang masih menyala.

“Aku akan mengatakan ini semua pada Jinki~” teriak Li Ra dari luar kamar Hara.

Sontak Hara langsung membuka pintu dan melakukan adegan ‘smirk’ pada Li Ra. “Eonni~ jangan katakan itu~ aku tidak pernah menyukai satupun dari mereka!” teriak Hara lalu menyerbu Li Ra yang duduk santai di sofa.

Kantin
-Sworlt High School-
14 December 2013

Hara POV

“Jeongmalyo~?” tanyaku dengan suara tertekan karena kaget mendengar ucapan dari Hyun Soo.
“Tapi kau tau siapa namja itu?” tanyaku lagi.

Raut wajahku yang tadi penuh rasa penasaran berubah datar dan kecewa. Karena Hyun Soo menggeleng pelan.

Dialah namja yang sangat kucintai. Aku adalah temannya. Ya, sebatas teman. Tidak lebih, dan kupikir tidak akan pernah lebih. Dan dia tidak pernah merasakannya—lebih tepatnya aku adalah ‘pengagum rahasia’ sejak kelas 11.

 “Goo Hara” panggil seseorang. Suaranya sangat kukenal, Lee Jinki—lebih akrab dipanggil Onew. Dialah penyebab aku membenci SHINee. Didukung aksi ‘taekwondo’ dari Minho.

“Wae?” tanyaku santai lalu memicingkan mataku tajam.

“Tak kusangka, kau menyukai satu dari kami?” tanya Onew mengeluarkan ‘smirk’ tak kalah menakutkan dariku.

“Mwo?!” ucapku dengan nada tertekan. “Aish, pasti Li Ra eon” gumamku kecil. “Ekm, sepertinya kau salah dengar” ucapku mulai berdiri merasa tertantang olehnya.

“Kau bisa dan harus memanggilku ‘oppa’.” Ucap Onew dengan nada merendahkan.

“Mwo? Oppa? Oh, sepertinya kau lebih pantas dipanggil ‘anak bebek’.” Ucapku tak kalah merendahkan.

“Ah, terserahmu. Aku sedang tidak mood bertengkar denganmu. Sekarang katakan saja siapa yang kau sukai dari kami!” ucap Onew meninggikan suaranya.

“Aku kan sudah katakan bahwa aku membenci SHINee!” ucapku dengan nada tinggi serta tanpa jeda sedikitpun—persis kebiasaan Li Ra eonni.

“MWORAGO~” teriak histeris para Shawol.

“Cih,” aku memicingkan mataku pada para Shawol yang mengelilingiku serta SHINee itu. “Aku bilang ‘AKU MEMBENCI SHINEE’!!” ulangku dengan suara yang lebih keras sampai Hyun Soo yang dibelakangku—dapat kurasakan dia sedang menutup telinganya akibat suaraku yang melengking—seperti teriakan Li Ra eonni.

“Kau mau bertengkar lagi dengan kami, hah!” ucap salah seorang Shawol wanita dengan tubuh yang gemuk dan pipi yang menggembung—seperti banyak makanan dikedua pipinya.

“Aish, aku sedang tidak mau bertengkar dengan kalian semua” ucapku pada Shawol. “Dan kau! Onew! Jangan pernah mengulangi pertanyaan bodoh tadi!” ucapku mengalihkan pandanganku pada Onew yang berdiri—menampakkan wajah datar khasnya.
Aku segera pergi meninggalkan kantin saat itu juga.

“Goo” panggil seseorang. Aku mengabaikannya dan terus berjalan secepat yang aku bisa. “HARA!!” lalu namja bersuara itu menarik pundakku sehingga aku terpaksa berhenti.

Aku berbalik badan dengan malas, “Mwo..” aku menekan kata-kataku, setelah mengetahui Hyun Soo dengan wajah murka sedang dihadapanku. “Mwoya!” entah darimana keberanian membentak Hyun Soo—orang yang sangat kucintai.

“Kenapa kau melakukan itu?” tanyanya masih mempertahankan wajah murkanya—yang setiap orang melihatnya akan lari ketakutan—tidak denganku, aku terpaku tak berani menatap wajahnya yang setiap saat selalu kuanggap tampan.

“Melakukan apa? Aku tidak melakukan apapun” ucapku sambil mengangkat bahuku.

“Kau bilang tidak melakukan apapun? Kau tau, kau sangat memalukan. Kau bahkan tidak peka bahwa ada orang yang mencintaimu sedang melihatmu dengan tatapan kecewa, bahwa kau membencinya, bahkan amat membencinya” ucap Hyun Soo panjang seakan menyalahkanku.

“Mwo? Jadi kau menyalahkanku? Kau bahkan tidak memberitauku siapa namja itu, aku tau kau bohong, Hyun. Aku tau kau pasti mengetahui siapa namja yang menyukaiku tersebut, tapi kau berkata bahwa kau tidak tau siapa namja itu. Aku berharap kau masuk neraka sekarang juga, karena kau telah menjadi pengkhianat, andai saja namja yang menyukai itu langsung melihat ini, sungguh menyedihkan sekali ya!” ucapku panjang lebar tanpa jeda—lagi-lagi seperti Li Ra eonni.

“Terserahlah, intinya adalah, KAMU GAK PERNAH PEKA!”

Mataku terbelalak mendengarkan kata-kata sederhana itu. Rasanya sangat menusuk, bahkan menembus hatiku. Hatiku serasa dikoyak dan dihancurkan berkeping-keping. Baru saat dan kali ini, Hyun Soo, membentakku. Ya, dia membentakku, dengan sangat keras dan kasar. Aku, aku ingin sekali membalasnya.

“Kau yang tidak peka, Hyun” ucapku lirih seraya tertunduk. Aku tau Hyun Soo kemungkinan besar tidak akan tau, karena dia pasti sudah pergi.

Akupun segera berlari menuju kelas.

Lorong Kelas 12
-Sworlt High School-

“Kau yang tidak peka, Hyun. Aku itu sangat mencintaimu, kau tidak pernah menyadari itu. Kau tidak pernah dan tidak akan pernah menyadarinya. Aku jadi semakin benci dirimu! Benci! Benci!” ucapku berulang-ulang ditengah Lorong kelas 12. Disini tidak ada siapapun, ya, kelas 12 sedang ada kunjungan diluar sekolah.

“Hara~” panggil seorang namja. Suara itu menggema dalam lorong ini. Saat menggema melewati telingaku, rasanya tubuhku gemetar, aku merasakan suara manis itu, Nugu?

Aku segera menoleh, “Key? Waeyo?” tanyaku padanya, sedikit lembut, karena suaranya yang membuatku tenang.

“Ehm…” dia bergumam sebentar, mempertimbangkan apa yang akan dia katakan. “Apa kau menyukai Hyun Soo?” tanyanya kemudian.

Aku tersentak, aku diam sejenak, berfikir, apa yang harus kujawab. “Memang kenapa?” tanyaku kemudian, tanda mengiyakan.

Key terlihat tertunduk, “Aniya, gwenchana” ucapnya seraya pergi meninggalkanku sendiri di Lorong ini.

“Key!” panggilku.

“Ne, noona?” tanyanya berbalik badan menunjukkan wajah cerianya lagi.

“Apa kau tau siapa namja yang muncul kemarin lusa?” tanyaku dengan wajah serius, mendekati Key agar jelas mendengar jawabannya.

Dia tampak tertunduk lagi. Aku bingung, mungkin dia sama dengan Hyun Soo. Tidak mau memberitau siapa.

Itu lebih baik dari Hyun Soo, “Baiklah, kalau kau tau, tolong ucapkan banyak terima kasih padanya” ucapku demikian. Aku tidak akan membiarkan sosok Key yang ceria, ramah, dan baik menjadi namja yang pembohong seperti Hyun Soo. Jadi, aku harus cepat berbicara sebelum Key berbohong.

“Ne, Noona” ucapnya  lalu pergi lagi tanpa meninggalnya sapaan.

***

-Relacty Café-
16 December 2012

Aku memegang gelas. Lalu memandang keluar, melihat turunnya salju yang amat lebat. Aku kembali mengingat kejadian yang 4 hari yang lalu.

#FLASBACK ON#

Salju turun sangat lebat. Hara menghangatkan badannya di seberang Café Favoritenya, dan berdiri di bawah pohon, meminta pelukan hangat dari sang pohon. Tapi pohon tak bergidik, pohon itu sendiri sedang berusaha melindungi anak daunnya dari salju yang lebat nan dingin.

Hara pun merapatkan jaketnya yang tebal, memasukkan jari-jemarinya—yang terbalut sarung tangan—kedalam saku jaketnya. Ia mengingil seraya menggertakkan giginya, beberapa kali bibirnya yang sudah membiru itu tergigit pasangan giginya, ia tak merasakannya, dirasa ia sedang matirasa sekarang.

“Noona!” panggil sebuah suara. Suara yang menenangkan Hara saat itu. Hatinya yang dibalut dinginnya salju. Namja itu memeluk erat tubuh Hara yang lebih pendek tapi tak jauh. “Wajahmu pucat, kita harus segera pergi ke dokter” ucap namja itu setelah melihat wajah Hara yang pucat bak mayat hidup—bibirnya biru, kulitnya putih pucat, matanya tertutup, giginya menggertak tak menentu.

“Andweyo. Aku butuh pelukan hangat” ucap Hara membuka matanya sedikit, mata birunya itu memancarkan suatu permohonan besar.

Akhirnya namja itu pun kembali memeluk Hara yang masih kedinginan.

“N—nugu—ya?” tanya Hara terbata-bata akibat giginya yang tidak dapat dikendalikan.

“Kau tidak perlu tau, Noona. Jeongmal Saranghae” ucapnya seraya memeluk lembut dan mengelus-elus rambut Hara yang sebagian tertutup topi hangat.

Hara menyembunyikan wajahnya yang pucat kedalam dada Namja itu. Dan dia merasa lebih baik jika mendengar suaranya, “Kau, bisakah kau menyanyi untukku?” tanya Hara mendongak sedikit.

“Aku akan melakukan apapun untukmu, Noona”  ucap Namja itu kembali mengelus-elus rambut Hara dan membiarkan kepalanya bersandar pada dadanya. Lalu Namja itu mulai menyanyi merdu, membuat jiwa dan tubuh Hara tenang. Dia merasa sangat bahagia, tiba-tiba giginya sudah berhenti, salju mulai mereda.

#FLASHBACK OFF#

Aku mendengus panjang. “Nuguya..” gumamku lirih memandang kosong keluar Café. Lalu aku terpikir ide yang bagus. Aku tersenyum lebar saat Ide sangat bagus keluar dari benakku. Aku berjalan perlahan keluar Café. Berpura-pura tidak melihat kanan-kiri, hanya melirik sedikit, awalnya aku hanya menengadahkan tanganku dan membiarkan salju turun di telapak tanganku, sambil memastikan adakah namja yang memiliki tinggi dan bentuk badan yang khas, serta rambutnya, apalagi suaranya.

“Gomawo, Jonghyun” ucap sebuah suara.

Oh, dia ada! Gumamku keras.

Aku langsung mengalihkan pandanganku membelakanginya. Bisa kurasakan namja itu berhenti memperhatikan punggung dan rambutku yang bergelombang khas. Aku tidak memakai topi hangat, tidak memakai sarung tangan, dan itu kusengaja.

Aku segera berakting merasakan dinginnya serpihan salju yang jatuh dikepalaku. Dan itu memang benar-benar dingin. Aku segera menyebrang, lalu berdiri di depan pohon yang beberapa hari lalu kutempati.

Aku segera mencari sarung tanganku, bukan bagian dari acting, tetapi ini benar-benar dingin, aku tidak bisa menahannya. Aku mencari dan mencari, lalu akhirnya kutemuka sebelah. “Kemana sebelahnya?” tanyaku. Aku mencari dibawah tubuhku, barangkali jatuh dibawahku. Tapi tak ada. “Aish,” aku mendengus kesal. Lalu aku mengingat lagi dimana aku menaruh sarung tangan keduanya sebelum kumasukkan tas. “Café!” ucapku sedikit berteriak. Lalu segera menutup mulutku.

Aku berdiri di pinggir jalan. Oh, jalanan ramai sekali. Aku harus cepat mengambilnya sebelum salju tidak lebat lagi.

Jonghyun POV

Aku berdiri didepan mobil. Bersenandung merdu. Lalu pandanganku tertuju pada seorang gadis yang terlihat kebingungan cara menyebrang. Aku ingin membantunya, tapi, setelah tau siapa gadis itu—Goo Hara—ku kurung niatku itu.

Pandanganku berpindah pada Key yang mencoba menyebrang juga. Ah, aku sudah tau, pasti Key yang mau membantu Hara menyebrang. Setelah salah satu jalur sepi, Key segera mengambil sarung tangan yang hanya sebelah. Lalu kupandangi lagi, Goo Hara yang sedang kebingungan—juga sedang membawa sebelah sarung tangan.

Key segera membersihkan sarung tangan itu. Aku hanya memperhatikan Goo Hara—yang tiba-tiba menyebrang tanpa melihat apa yang akan menciumnya.

Aku segera berlari dan mendorong gadis itu menuju tepi.
Aku mencoba membuka mataku, aku memandangi wajah Hara yang tidak ada luka. Jarak wajah kami hanya 8 Centi Meter.

Sret…

Key menarik bahuku dan menjauhkan tubuhku pada Hara. “Ya! Apa-apaan kau ini, Jong? Kau tau kan pasti akan ada yang cemburu!” bentak Key tak terima.

Aku segera berdiri dan membantu Hara untuk berdiri juga. Wajahnya terlihat bingung, “Mianhamnida, Goo Hara” ucapku lalu membungkuk sopan.

“Kau tidak papa, Jong?” tanya Hara memperhatikan tubuhku yang berbalut jaket tebal dan celana yang jeans berbahan hangat.

“Ah, Gwenchana, Hara” jawabku lalu mundur satu langkah.

“Noona, ini sarung tanganmu” ucap Key lalu memberikan sarung tangan yang terjatuh di tengah jalan tadi. “Tadi sempat kotor karena terlindas roda mobil seseorang” jelasnya singkat.

“Gomawo, Key” Hara tersenyum ramah. Entahlah, kupikir itu adalah senyum paling ramah dan manis yang pernah Hara berikan pada seseorang. Aku tau dia seperti apa dihadapan kami—SHINee.

***

Ruang Kelas 12-A
-Sworlt High School-
17 December 2012

Author POV

Hara duduk mengayunkan kedua kakinya. Dia sibuk mencatat sesuatu. “Baiklah, rapat dimulai” ucapnya sendiri. Bangkunya ada dibelakang, jadi tidak masalah jika dia berisik disana. “Pertama, O-n-e-w” ucapnya lagi mengeja tulisannya. “Tidak ada yang mencurigakan” ucapnya kemudian. Lalu menulis huruf ‘X’ disebelah nama ‘Onew’.

“Hara!” panggil seseorang. Hara mengalihkan pandangan lalu memperhatikan yeoja berambut ikal itu menuju dirinya.

“Mwoya, eon? Aku sedang sibuk sekarang!” ucap Hara lalu mengetuk polpen ke buku catatannya.

“Onew! Onew!” teriak histeris Li Ra dengan wajah ‘sumigrah-nya.

“Wae Onew?” tanya Hara.

“Barusan dia meminta nomormu!” ucapnya pelan tapi terkesan sangat senang.

“Mwoya!” teriak Hara. Lalu memandangi buku catatannya yang nyaris kosong, “Sepertinya aku harus mencoret tanda ini” ucapnya lalu mencoret tanda ‘X’ pada nama ‘Onew’.

“Ahahahaha~” tawa Li Ra setelah melihat buku catatan Hara. “Goo Hara, saengku yang sangat kusayang, kenapa kau segitunya memikirkan namja saljumu itu?” ucap Li Ra diselangi tawaan kecilnya.

“Ini penting, eonni! Aku suka suaranya yang selalu membuatku tenang, aku suka…” ucapku lalu memelankan suaraku ketika Hyun Soo melewati bangkuku.

“Hahaha~ aku akan membantumu, saeng. Tenang saja, coba kau tulis statusmu dengan mereka, seperti hanya teman, atau teman curhat, dan yang lain” jelas Li Ra eonni mengambil kursi lalu duduk didepanku.

“Ah, itu benar! Pertama, Onew. Yang mencurigakan hanya tadi, tapi itu tidak mungkin dia! Aku tau suaranya itu bagus, tapi, suaranya bagaikan petir menyambar bukan menenangkanku, lagipula dialah penyebab aku membenci SHINee!” jelasku panjang lebar.

“Ehm, kau tau kan, ada pepatah mengatakan ‘benci jadi cinta’. Dan itu bisa terjadi pada kau dan Onew!” ucap Li Ra sambil mengacung-acungkan jari telunjuknya—mengingat kata-kata pepatah tersebut.

“Aish, lanjut saja dulu!” ucap Hara benci. “Kedua Jonghyun” ucap Hara. Dia langsung mengingat tragedi kemarin. “Dia juga mencurigakan,” ucap Hara.

“Mencurigakan? Jincha?” tanya Li Ra.

Hara mengangguk. Lalu menceritakan kejadian kemarin didepan Relacty Café. Tapi dengan suara pelan, supaya tidak ada yang mendengar, kalaupun bangkunya dibelakang, banyak yang melewati bangkunya—tepatnya disebut patokan bangku.

“Jadi kau hampir dicium Jong…” Li Ra berteriak tapi sebelum melanjutkan kata-katanya, tangan Hara segera membekap eonninya—yang terkenal heboh itu.

“Eonni!!” teriak Hara kesal.

“Eoh, mian-mian” ucap Li Ra akhirnya. “Kau benar-benar mengalamaniya? Oh, benar-benar menakjubkan!” ucap Li Ra kembali heboh.

“Eonni, aku serius!” ucap Hara semakin bosan.

“Kau serius? Jincha? Jeongmal? Wah, andaikan aku jadi dirimu, dan Jonghyun berubah menjadi Minho, oh aku akan segera menariknya dan membiarkannya menciumku” ucap Li Ra membayangkan hal.

“Ish, eonni, kau benar-benar pengimajinasi paling bodoh yang pernah kukenal” ucap Hara lalu memandangi keluar jendela.

“Apa katamu?” tanya suara khas Minho dari luar jendela.

“Oh~” Hara dan Li Ra segera menutup mulut mereka. “Aniya, gwenchana!” ucap Hara kemudian. Segeralah Minho pergi dari pandangan mereka. Lalu Hara dan Li Ra berpandangan, “Eonni, itu masalahmu” ucap Hara lalu segera menulis lagi.

“Selanjutnya, siapa? Key?” tanya Li Ra.

“Ah, entahlah aku tidak tau siapa yang lebih tua” ucap Hara menulis nama ‘Key’. “Kurasa dia berperan penting. Sepertinya dia tempat curhat namja itu, karena, saat kutanya dia tau atau tidak, dia tidak menjawab, kedua, tragedi kemarin, aku masih ingat dia mengatakan ‘Kau tau kan akan ada yang cemburu!’ dengan tegas kepada Jonghyun” jelas Hara panjang.

“Benar juga, kita perlu menyelidikinya lebih lanjut” ucap Li Ra menyuruh Hara menulis alasan itu. “Selanjutnya Minho. Kurasa kau tidak ada hubungannya dengannya, lewati sajalah!” ucap Li Ra—seakan-akan dirinya adalah tunangan Minho.

“Aish, siapapun dia, walaupun tidak ada hubungannya pun kita harus menyelidiki, eonni!” ucap Hara ketus.

“Baiklah, baiklah. Masih belum terbukti, maka, lanjut pada Taemin saja!” ucap Li Ra.

Hara mendengus kesal, “Ne. kurasa aku juga tidak ada hubungan dengan Taemin. Hanya saja, dulu aku adalah tempat curhatnya, dan dia pernah curhat padaku bahwa dia menyukai seorang yeoja, yang jelas itu bukan aku” ucap Hara langsung.

“Hmm… baiklah, hanya tiga orang yang dicurigai. Rapat selesai!” ucap Li Ra menutup rapat kecil mereka.

“Gamsha eonni sudah membantuku” ucap Hara.

“Ne. kajja ke kantin” ajak Li Ra.

Hara segera memasukkan seluruh pelaratannya kedalam tas, lalu mengikuti Li Ra.

Tiba-tiba Hyun Soo lewat sambil bersenandung merdu. Hara tak mempedulikannya, hanya terus memperhatikan lurus kedepan. Hara baru menyadari sesuatu segera menoleh dan memperhatikan punggung Hyun Soo yang menjauh, “Lagu itu” ucap Hara.

Li Ra ikutan menoleh, “Mwo? Lagu apa?” tanya Li Ra bingung.

“Lagu yang dinyanyikan Hyun Soo barusan adalah lagu namja itu saat dia menyanyikannya untukku!” jelas Hara lebih lanjut.

“Kurasa dia perlu dimasukkan buku catatan juga,” ucap Li Ra sambil mengangguk-angguk.

TBC~

Aneyong, masih banyak typo disini. Maklum-lah, author kan pembuat ff baru. Jadi  mohon maklum ya. Di shoot yang pertama ini dibuat panjang, karena author nyari adegan biar nanggung gitu. Hehehe, biar banyak yang nungguin deh jadinya. FF ini kutujukan untuk eonniku. Yang menjadi peran Goo Li Ra disini. Ya, aku tau dia adalah Fans Choi Minho SHINee. Sekalian saja, kuperankan cukup penting. Oiya, disini Author anggep kalo Key, Jonghyun, dan yang selain Onew lainnya itu umurnya dibawah Hara. Jadi Key manggilnya Noona, sementara Jonghyun enggak, soalnya Jonghyun ceritanya gak tau kalo dia lebih muda dari Hara.


Author sengaja buat cast SHINee. Ya, sekali-kali-lah. Pengennya sih EXO, tapi karena orangnya kebanyakan, nanti ber-chapter deh jadinya, haha. Oke, tinggalkan komentar ya, tolong kritik dan sarannya. 

Ini Fanfict sebenernya udah selesai, jadi 3 hari lagi Author share yang Shoot kedua ^^

Gomawo udah membaca =)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar