Tittle: Snow Hug
Scriptwriter: Aldila / leeunra
Cover: Me / Author
Cover: Me / Author
Main Cast:
-
Goo Hara Kara
-
Kim Kibum (Key)
SHINee
Support Cast:
-
Goo Li Ra (OC)
-
Park Hyun Soo
(OC)
-
Member SHINee
Genre: Romance
Duration: Twoshoot
Rating: 13
Summary:
“Snowflake”
“Benar, itu kau!”
***
Halo
halo, Author datang membawa shoot kedua alias endingnya. Kali ini masih dengan
otak author sendiri. Tapi didalam sini, waktu adegan Namja pemeluk eh maksudnya
namja misterius yang menyanyikan suatu lagu buat Hara. Nah, lagu itu thor dapat
dari lagu anak kecil. Haha, biarin deh, yang penting nyambung sama salju.
Judulnya ‘Snowflake’. Itu bukan lagu bahasa Indonesia, tapi bahasa Inggris.
Lagu ini lyricnya cuman gitu-gitu aja, tapi mellow dan gak tau kenapa Thor jadi
suka. Waktu muter lagunya bareng adek yang masih kecil, eh langsung kepikir.
Apalagi didalam video lagu itu ada sepasang boneka salju—cewek cowok—menari
bersama gitu.
Happy Wacthing!
***
Snowflake Snowflake
Little Snowflake Little Snowflake
Falling from the sky
Snowflake Snowflake
Little Snowflake Little Snowflake
Falling Falling Falling Falling Falling…
Falling on my Head
Falling on my Nose
Falling in my Hand…
***
-Pervious-
“Lagu
itu!” seru Hara menoleh lalu memandangi
punggung Hyun Soo yang menjauh.
Li
Ra ikut menoleh, “Lagu apa?” tanya Li Ra bingung.
“Nada
lagu yang dinyanyikan Hyun Soo adalah lagu yang dinyanyikan namja itu saat
memelukku” jawab Hara.
“Sepertinya
namanya perlu dimasukkan dalam buku catatan” ucap Li Ra lalu melakukan ‘smirk’
pada Hyun Soo yang sudah hilang dalam pandangan.
***
-Relacty
Café-
17
December 2012
“Sepertinya
kita salah memasukkan nama Hyun Soo” ucap Li Ra lalu mengetuk-etuk polpennya
pada nama ‘Hyun Soo’ di buku catatan Hara.
“Jincha?
Mengapa begitu?” tanya Hara bak detektif sedang menyelidiki tersangka.
“Ne,
kau ingat kan kata-kata Hyun Soo sendiri, kalau ‘Namja itu salah satu dari
member SHINee’ dan SHINee hanya ada lima bukan enam!” jawab Li Ra sangat jelas
membuat Hara mengangguk-angguk setuju.
“Tapi,
bagaimana bisa dia tau lagu itu?” tanya Hara lalu menyeruput Moccachino.
“Entahlah,
mungkin dia teman dekat namja itu” jawab Li Ra tak bisa berterus-terang.
“Kalau
tidak begitu, Hyun Soo adalah teman curhat namja itu. Secara, dia tau siapa
namja itu, sampai dia tau lagu itu” ucap Hara mengira-ngira.
“Bisa
jadi,” komentar Li Ra lalu menyangga dagunya dengan sebelah tangannya. “Bisa
jadi Hyun Soo menjebakmu!” seru Li Ra lalu mengacungkan telunjuknya pada
adiknya
Hara
mengerutkan kening tak mengerti, “Menjebak?” tanya Hara.
“Ne,
menjebak. Maybe dia sudah tau kalo Hyun Soo dan kau akan berpapasan, dan saat
itu dia sengaja bersenandung dengan nada lagu itu, sengaja membuatmu terjebak,
membuatmu tambah bingung” jelas Li Ra.
“Perlu
kita selidiki Hyun Soo” ucap Hara kemudian.
***
Hara
POV
Kantin
-Sworlt
High School-
18
December 2012
“Tolong
beritau siapa namja itu, Hyun” ucap Hara memohon dengan wajah memelas layaknya
anjing kelaparan minta makan.
“Mianhae,
Hara. Soal yang dulu, juga soal yang ini. Aku tidak bisa memberitaumu” kata
Hyun Soo lalu menggeleng pelan.
Aku sudah tidak
mencintaimu, ingat itu, Hyun Soo. Kalaupun kau meminta maaf padaku soal adegan
bohongmu, aku tetap mengeluarkan kau dari hatiku. Karena kau tidak bisa
membuatku nyaman, kau tau, hanya Namja misterius itu yang dapat membuatku
nyaman, tenang, dan damai. Aku juga yakin dia baik, tidak sepertimu
“Hara”
panggil Hyun Soo membuyarkan lamunanku.
Aku
tersentak, melompat kecil, lalu mengatur detak jantungku yang tiba-tiba tak
beratur, “Oh, Mian. Ne, aku memaafkanmu, tapi…”
“Tapi?
Tapi apa?” tanya Hyun Soo mengangkat sebelah alisnya.
“Tapi,
tolong beri aku petunjuk tentang namja itu” jawabku kemudian.
“Ehm,
baiklah, Tingginya…”
“Tingginya
aku tau, tubuhnya yang khas tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata aku tau, dan
suaranya pun juga tau. Petunjukmu apa?” ucapku memotong kata-katanya. Hanya
petunjuk itu yang kutau.
“Ehm,
rambutnya Hitam” ucap Hyun Soo sedikit berat.
“Semua
membernya berambut hitam, pabo!” ucapku melontarkan jitakanku pada Hyun Soo.
“Appo!
Kau ini diberi tau malah menjitakku sembarangan!” ucap Hyun Soo kesal.
“Kau
yang sembarangan! Beritau petunjuk yang berbeda. Bukan suatu persamaan antara
kelimanya!” ucapku tak kalah kesal.
“Ne,
Ne!” ucap Hyun Soo. “Ehm, apalagi yang harus kukatakan? Yang tersisa dalam otakku
adalah, dia pernah berbicara denganmu” Hyun Soo menyeringai lalu tertawa kecil.
“Aish!
Itu juga persamaan anatara kelimanya, paboya!” ucapku siap menjitak Hyun Soo
lagi.
“Ada
apa ini?” tanganku berhenti ketika melihat Jinki menahan tanganku.
Aku
mencoba melepaskan tanganku, “Igemwoya!” ucapku kesal.
“Jangan
seenaknya menyiksa Hyun Soo!” ucap Jinki dingin.
Akupun
berhenti mencoba melepas tanganku, memandangi setiap wajah dari kelimanya, lalu
menatap wajah Jinki, dia berubah dingin?
“Ada
apa denganmu?” tanyaku tak kalah dingin.
“Kubilang
jangan seenaknya menyiksa Hyun Soo” jawab Jinki kembali dingin.
“Ahaha,
ini hanya bercanda. Memang kau siapanya? Eomma? Appa? Atau Harabujinya Hyun
Soo?” ucapku pedas.
Jinki
melepas tanganku kasar. “Kau tak perlu berperilaku memaksa padanya. Hanya
katakan apa yang akan kau tanyakan” Jinki mengabaikan kata-kata pedasku lalu
berubah kata-kata memberi kesempatan.
Dia
akhir-akhir ini aneh, berkata dingin padaku, tidak mempedulikan ejekan pedasku,
dan dia bilang sendiri kalau dia sedang tidak mood bertengkar denganku? Hah?
Apa benar ini Jinki?
“Oke,
mudah sekali. Hanya, aku ingin tau, siapa namja itu?” ucapku tanpa ragu. Aku
tau mereka pasti tau yang kusebut ‘itu’. Tak perlu kujelaskan panjang lebar.
“Sangat
mudah, kau hanya perlu memanggilku ‘oppa’ didepan seluruh Shawol, dengan suara
imut dan manis, bukan suara dingin ataupun biasa, apalagi berteriak” jelasnya
memberi syarat.
Raut
wajahku seketika berubah ketika mendengar syarat itu. “Tidak ada syarat yang
lain apa?” ucapku keki.
“Oh,
kau mau syarat yang lain, oke, nanti Key, Jonghyun, Minho, dan Taemin akan
memberikannya. Sekarang, tuntaskan syarat pertamamu dariku!” ucap Jinki.
“Mwo!?
Maksudku syaratnya diganti, bukan ditambah!” ucapku membentaknya.
“Baiklah,
kalau tidak mau, kami tidak akan memberitau” ucap Jinki mengancam.
“Aish,
aku tidak bisa bersuara imut!” ucapku beralasan.
“Tidak
usah beralasan! Cepat lakukan!” ucap Jinki seakan tau kalau aku hanya beralasan.
Aku
memanyunkan bibirku. Aku menghela nafas panjang, melihat sekeliling, berharap
Li Ra eonni menolongku dari hal seperti ini. Ah tapi sia-sia, aku tau Li Ra
eonni sedang kunjungan sendiri di sebuah Gedung Penelitian Ilmiah, berbeda
dengan Jinki, dia tidak dapat kunjungan apapun padahal sekelas dengan Li Ra eonni.
Aku
melihat para Shawol, mereka tampak sedikit tak peduli, banyak yang pergi,
mereka lebih memilih menikmati jajanan, ya, ini memang tidak penting, aku masih
memperhatikan mereka, memeriksa adakah yang membawa kamera.
“Huft…”
aku mengambil nafas lalu menghembuskannya. “Oppa~” ucapku dengan suara imutku
dan wajah yang meyakinkan. Aku segera melihat Shawol, mereka tak tertarik.
“Ya!
Lihat, mereka tidak tertarik! Buat mereka tertawa dengan syaratku tadi” ucap
Jinki seenaknya. “Kalau perlu, tambahkan kata-kata lain sampai membuat mereka
tertarik!” sambungnya.
“Mwo!
Aku bukan binatang, Jinki!” bentakku kasar. Lalu segera memukulinya.
“Ya!
Baiklah, kami tidak akan memberitaumu!” ancam Jinki.
“Ne!
Ne! aku akan tujukan kata-kata ‘oppa’ kepada namja itu, kuharap kau
mendengarnya” ucapku mengumumkan.
Glek!
Aku
kembali menarik nafas dan menghembuskannya panjang, “Oppa Neomu Kyeopta~”
ucapku dengan suara imutku lagi dan wajahku yang lebih imut daripada yang tadi.
Kulihat
mereka semua tersenyum, bahkan Taemin tertawa. Para Shawol banyak yang berbisik
sambil tertawa.
Aku
segera menutup wajahku dengan kedua tanganku lalu menggeleng, “Sudah puaskah
kau?” ucapku berteriak setelah aku membuka kedua tanganku dan menunjukan wajah
murka-ku.
Tet~
Tet~
“Oh,
bel masuk” ucap Jinki santai lalu tersenyum ramah.
“Kau
tinggal memberitau siapa namja itu!” teriakku sambil menarik lengan Jinki.
BRUK!
Oh,
Sial, aku terjatuh didepan Jinki—lebih tepatnya jatuh tersungkur. Sukses
mendapati simpati orang yang berlalu-lalang. Sekarang aku tau apa yang dipikirkan
mereka, “Kasihan sekali dia,” ucap salah seorang. “Iya, kasihan ya, cintanya
ditolak” sambung yang lain.
Aku
segera menghela nafas panjang, mengigit bibir bawahku. “Memalukan!” umpatku
sendiri.
“Gwenchana?”
tanya Jinki menawarkan tangannya.
Aku
terkaget, “Hmm?” hanya itu suara yang bisa kulontarkan. “Aniya, aku bisa
berdiri sendi…” ucapku sambil mencoba menyangga tubuhku dengan tanganku, “Aww…”
rintihku ketika gagal berdiri sendiri dengan tangan yang menyangga.
“Aish,
gadis merepotkan!” umpat Jinki lalu segera menarik kasar tanganku lalu
membantuku berdiri.
Suaraku
tertahan, ingin rasanya mengucap ‘terima kasih’ lalu segera menghambur pergi.
Tapi entah kenapa mulutku terasa dikunci. “Gam…”
“Hara!”
panggil suara khas Li Ra eonni.
Aku
segera menoleh keasal suara, lalu kembali memandang Jinki, segera membungkuk
tanda terima kasih lalu menghambur pergi. Tapi langkahku tertahan.
“Kau
hanya harus mengingat kata-kata Hyun Soo” bisik Jinki dingin ditelingaku. Lalu
melepaskan genggamannya, aku menatapnya heran.
“Kata-kata?”
tanyaku—mengurungkan niatku untuk menghambur ke Li Ra eonni—karena Jinki
terlihat sangat misterius.
“Ya,
dan pertahankan suara manismu itu” jawabnya tersenyum manis lalu memasukkan
kedua telapak tangannya kedalam saku celananya.
Li
Ra eonni sudah berada disampingku ketika Jinki baru saja menghilang dari
pandanganku. “Apa yang dikatakannya?” tanya Li Ra eonni.
“Dia
sangat mencurigakan, eon” jawabku antusias.
***
-Goo
Family House-
18
December 2012
“Hara,
pertunjukanmu tinggal 2 hari lagi!” seru Li Ra eonni lalu mengangkat
garpunya—bahagia.
“Yak!
Eonni! Jangan angkat garpumu” ucapku keki lalu melindungi kepalaku—berubah
menjadi paranoid.
“Hehe,”
Li Ra eonni tertawa kecil lalu menurunkan garpunya. “Mianhae, Hara. Oya, aku
mau tanya, apa yang kau maksud dengan kata-kata tadi di sekolah ‘Dia sangat
mencurigakan’?” tanya Li Ra eonni—menirukan suaraku yang berbisik saat
memberitau keanehan Jinki tadi.
“Ah,
itu. Kau tau, saat aku menyelidiki tersangka—Hyun Soo—dia datang dan memarahiku
karena menjitak Hyun Soo—dan itu terlihat seperti sangat peduli, ehm, ralat,
maksudku terlihat sangat akrab—layaknya sahabat. Akhirnya aku menanyakan siapa
namja ‘itu’, tetapi dia memberiku syarat, yah, mau tak mau aku harus
menurutinya…” ceritaku panjang lebar.
“Dan
saat aku hendak menghambur menujumu, dia menahan tanganku lalu berkata ‘Kau
hanya harus mengingat kata-kata Hyun Soo’.” Ucapku menirukan suara dingin
Jinki. “Lalu aku bertanya ‘Kata-kata?’ dan saat itu pula dia berkata ‘Ya, dan
pertahankan suara manismu’.” Sambungku kembali menirukan suara Jinki. “Setelah
itu dia tersenyum manis!” ucapku mengakhiri. “Kupikir dengan kata-kata
‘Mengingat kata-kata Hyun Soo’ Jinki hanya memberitau petunjuk saja” jelasku
diakhir cerita.
“Ehm,
Hara” panggil Li Ra eonni dengan wajah serius.
Aku
menaikkan alisku, “Ne?” tanyaku.
“Kupikir,
kau memang harus memanggil Jinki dengan kata ‘oppa’ dan suara manismu itu” ucap
Li Ra eonni mengangguk-angguk.
“Mwo?”
aku tersentak kaget.
“Ne,
itu lebih sopan. Kau tau, jujur aku juga tidak suka kau memanggil Jinki tanpa
kata sopan ‘oppa’ walaupun dia musuhmu” kata Li Ra eonni menyambung alasannya.
“Disangka
aku yeojachigunya?” ucapku memberi alasan.
“Aniya,
itu tidak akan” jawab Li Ra eonni lalu memainkan kuku-kukunya.
Aku
menghela nafas, “Aku sungguh membencinya!” umpatku dengan suara tinggi.
Li
Ra eonni melirikku tanpa merubah posisinya, “Kupikir kau akan jadi adik kelas
yang sangat tidak baik dengan membenci kakak kelasmu” ucapnya masih
mempertahankan posisinya.
“Hhh…
eonni…” rengekku.
“Aku
tidak memaksamu” kata Li Ra eonni lalu menaikkan bahunya.
Tiba-tiba
hening. “Aku tak tau bagaimana nasibku
jika mendapat perlakuan aneh yang disebut ‘syarat’ oleh mereka. Rasanya aneh,
seakan aku masih punya utang 4 ribu juta won” jelasku memecahkan keheningan.
“Tenang
saja, Hara. Besok Eonni akan menemanimu, jadi jika kau mendapat perlakuan aneh,
kau bisa mengandalkanku” ucap Li Ra eonni layaknya seorang superhero.
“Ahh,
eonni, gomapta~” ucapku dengan suara manisku.
“Cheonma~”
balas Li Ra eonni menirukan suara manisku. Lalu kami tertawa bersama.
“Bagaimana
dengan kata-kata ‘Mengingat kata-kata Hyun Soo’ ?” tanyaku tak habis pikir.
“Kau
harus mengingat-ingat kata-kata Hyun Soo. Itu maksudnya, ehm, ralat, maksudku
kata-kata penting yang menyangkut ‘namja itu’.” Jawab Li Ra eonni.
“Ehm,
kata-kata apa ya?” gumamku.
“Oh!”
seru Li Ra eonni. Sontak aku memandangnya dengan wajah serius, “Kenapa kau
berhenti menyukai Hyun Soo?” tanya Li Ra eonni.
“Oh,
ayolah, eonni. Bukan saatnya mengingat masa laluku dengan Hyun Soo!” ucapku
kesal.
“Ani,
bukan itu. Jawab aku, aku bisa memberi petunjuk akan ‘kata-kata’ dari ‘Hyun
Soo’.” Ujar Li Ra eonni tampak sangat serius.
“Karena
dia membentakku?” ucapku setengah ragu.
“Nah,
dia membentak apa?” tanya Li Ra eonni dengan nada terdesak, seperti orang tak
sabar melahap makanannya.
“Ehm,
‘KAMU TIDAK PERNAH PEKA!’.” Teriakku menirukan suara Hyun Soo saat itu.
“Ya!
Betul! Kau tidak peka! Dan kau perlu memperdalam sosialmu dengan SHINee!” sorak
Li Ra eonni.
“Tunggu,
tidak mungkin kalau namja ‘itu’ adalah ‘Jinki’. Secara, saat Jinki bertengkar
denganku, dia tidak pernah menampakkan wajah kecewanya. Yang sebelum Hyun Soo
membentakku, dia berkata yang intinya adalah ‘namja itu memiliki wajah kecewa
saat aku berteriak aku membenci SHINee’.” Jelasku panjang.
“Ne!
kau benar! Sekarang Jinki dicoret!” kata Li Ra eonni mencoret nama ‘Jinki’ di
buku catatanku menggunakan garpunya.
“Yak!
Eonni, kenapa memakai garpu! Ini akan menimbulkan bekas dikertas selanjutnya!”
seruku kesal.
“Eh,
mianhae. Yang penting beban kita berkurang ‘satu’!” kata Li Ra eonni menahankan
kata-kata ‘satu’ sambil mengacungkan jari telunjuknya didepanku.
“Ne,
tapi, jika beban kita tinggal ‘dua’ yaitu Key dan Jonghyun, itu malah semakin
berat, eon!” ucapku dengan nada pasrah.
“Jangan
pasrah, Ra” kata Li Ra eonni lalu tersenyum sambil menepuk pundakku. “Oh,
sebentar” sambung Li Ra eonni lalu meraih handphone-nya
dan berlalu pergi.
“Aish…”
desahku lesu.
“Kau tidak perlu
tau, Noona. Jeongmal Saranghae”
Kata-kata
itu selalu mengiang ditelingaku. “NOONA!!” sorakku girang. “Ne! kata ‘Noona’
membantuku!” sambungku masih bersorak, lalu segera mengepalkan kedua tanganku
lalu menaik-turunkan menandakan kata ‘Yes!’.
***
School
Garden
-Sworlt
High School-
19
December 2012
“Snowflake Snowflake Little Snowflake Little
Snowflake Falling from the Sky” aku menyanyi kecil dibawah pohon yang
rindang—bersama Li Ra eonni.
“Menurutmu
judulnya apa?” tanya Li Ra eonni mendengarkan suaraku.
“Little Snowflake? Atau Little Snowflake falling from the Sky?”
jawabku asal.
“Judul
macam apa itu, panjang sekali” komentar Li Ra eonni mengerutkan keningnya.
“Snowflake?” tanyaku mencoba lagi.
“Masuk
akal juga!” komentar Li Ra eonni lalu mengacak rambutku gemas.
“Yak
eonni!” rengekku menepis tangan Li Ra eonni lalu membenahi rambutku.
“Hm,
Mianhae” ucap Li Ra eonni lalu tersenyum lebar sampai matanya berbentuk huruf
‘n’.
Aku
ikut tersenyum, lalu mengedarkan pandanganku pada taman sekolah ini. Sangat
sejuk, aku merasakan hembusan angin yang sepoi-sepoi membiarkan setiap helaian
rambutku menari-nari.
Aku
menghentikan pandanganku, lalu mencoba meyakinkan apa yang kulihat. Taemin? Dia
duduk sendiri dibawah pohon sambil tertunduk. “Eonni, sepertinya aku ada
urusan. Tinggalkan aku saja, ya” ucapku tanpa memandang Li Ra eonni.
“Oh,
jincha? Baiklah, kalau acara persyaratan itu dimulai, beritau aku ne!” seru Li
Ra eonni, aku hanya mengangguk tanpa menoleh pada Li Ra eonni.
Aku pun berjalan mendekati Taemin. Hanya dia
member SHINee yang masih duduk di kelas 11.
“Taemin?”
sapaku.
Dia
mendongak, lalu memandangku sejenak. “Noona…” rengeknya seakan meminta pelukan.
“Kau
butuh pelukan?” tanyaku.
Dia
mengangguk lemah, sepertinya dia sedang mengalami masalah ‘cinta’. Kuraih
tangannya, lalu segera memeluknya.
5
menit…
Disini
hening, Shawol kelas 11 memperhatikan kami. Aku hanya diam, tidak berani
bertanya macam-macam padanya. “Kau sudah baikan?” tanyaku dengan posisi masih
memeluknya.
Dia
diam saja. Aku mengeratkan pelukanku, lalu mengelus pundaknya, “Bisakah kita
lepas sebentar, kau butuh tempat sepi tanpa penggemarmu” ucapku pelan.
Taemin
mengangguk, lalu melepaskan pelukan kami. Akhirnya aku dan Taemin berjalan
menuju tempat yang lebih sepi.
Aku
duduk didepan Taemin—dibawah pohon. “Aku sakit hati, Noona…” ungkap Taemin
tertunduk.
“Soal
Naeun?” tanyaku dengan suara lembut, tetap menjaga hatinya.
Taemin
mengangguk pelan, “Dia sudah ada yang punya” sambung Taemin.
Hening
sejenak. “Bagaimana kau tau?” tanyaku lagi.
“Aku
melihatnya sendiri. Dia bermesra-an dengan namja lain,” jawabnya.
“Mungkin
itu saudaranya, sepupunya, atau oppanya” ucapku lalu mengambil duduk disamping
Taemin, segera merangkulnya, lalu mengelus-elus bahunya.
“Aniya,
Noona. Aku melihatnya sendiri, dia dan namja itu berpelukan, bergandengan
tangan, karena aku tau Naeun hanya mempunyai Eonninya, dan tidak mungkin sepupunya,
ponakannya ataupun saudaranya semesra itu…” jelas Taemin.
“Kau
tidak perlu memaksakan dirimu untuk bercerita. Tenangkan dirimu dulu…” ucapku
masih mengelus-elus bahunya.
“Andwe,
Noona. Aku hanya ingin menuangkan isi hatiku padamu. Kalaupun itu Hyungku,
mereka tidak pernah mengerti, hanya kata ‘sabar’lah yang muncul” ungkap Taemin
lagi.
“Mungkin
kau perlu jeda untuk tidak mencintai siapapun dulu” ucapku memberi saran.
Yah,
selama ini, aku memang selalu menjadi tempat curhat untuk Taemin. Dia sudah
kuanggap adik sendiri, tidak lebih. Kurasa hanya dialah yang dekat
denganku—diantara member SHINee yang lain.
Taemin
menggeleng mantap, “Aku sudah menemukan penggantinya, Noon” ujar Taemin.
Aku
tersenyum geli, “Jincha?” tanyaku dengan suara manisku, lalu menatap Taemin
yang sudah kembali bersemangat.
Lalu
Taemin mengangguk, “Yang aku sudah yakin kalau yeoja itu tidak memiliki
Namjachigu” ucap Taemin antusias.
“Jeongmal?
Boleh aku tau siapa dia?” tanyaku penasaran.
“Dia
kakak kelasku” jawab Taemin.
Deg!
Kakak
kelas katanya? Oh aku harus menanyakan lebih dalam. “Apa kau pernah berbicara
dengannya?” tanyaku lagi.
Taemin
mengangguk, “Aku berbicara dengannya dan bertemu dengannya pertama kali saat
MOS” jawab Taemin lebih jelas.
MOS?
Dialah adik kelas pertama yang mampu beradaptasi denganku. Dan kurasa hanya
akulah yang dekat dengannya saat MOS.
“Jincha?”
tanyaku antusias.
“Ne,
dan dialah yang membuatku lebih nyaman…” jawab Taemin—diakhiri suaranya yang
tampak lesu kembali. Dia menatapku, “Noona, maukah kau memelukku lagi?”
tanyanya.
Aku
terkejut mendengarnya, aku rasa akulah yeoja yang dimaksudnya. Aku harus
memeluknya lagi, aku harus merasakan, apa aku merasakan kenyamanan yang sama.
Oh, sial! Taemin masuk dalam buku catatanku!
“Kemana
yeoja yang baru kau sukai itu? Kau bilang dialah yang membuatmu nyaman, kenapa
tidak dia saja?” tanyaku penasaran. Inilah pertanyaan yang cantik, dapat
menjawab semuanya yang mencurigakan dari 'Yeoja yang dicintai Taemin' yang baru.
“Karena
pelukanmu sama dengan pelukannya…” jawab Taemin ragu.
Mataku
terbelalak, sama? Jadi bukan aku? Oh, Syukurlah! Tapi ini bisa menjadi jebakan,
bisa jadi arti ‘sama’ adalah ‘satu’ yaitu diriku.
“Jincha?
Em, baiklah” ucapku basa-basi. Segera kuraih tubuh Taemin, kupeluk penuh kasih
sayang. Pelukan inilah pelukan yang paling kuinginkan sejak dulu, pelukan
adik-kakak. Taemin, jika kaulah namja itu, jeongmal mianhae, aku tidak akan
mencintaimu sebagai pemilik hati, tetapi mencintaimu sebagai pemilik peran
‘adik’ dalam hidupku.
“Snowflake
Snowflake…” aku mulai menyanyi—yang sama saat namja misterius itu
memelukku.
“Gomawo,
Noona” ucap Taemin lirih.
***
Kantin
-Sworlt
High School-
19
December 2012
Aku
duduk menunggu persyaratan itu datang. Aku duduk disamping Li Ra eonni, sesuai
kata-katanya kemarin, dia akan menjagaku selagi acara itu dimulai.
Dari
kejauhan—kantin di sekolah ini memang sangat luas—terlihat Minho berjalan. Oh,
giliran kedua—setelah kemarin Jinki—ternyata Minho. Li Ra eonni sangat
antusias.
“Yak!
Eonni! Jangan sesekali terpesona padanya, saat dia benar-benar menyiksaku
nanti” bisikku pada Li Ra eonni yang melamun sendiri membayangkan dirinya
dengan Choi Minho.
“Ne~”
jawab Li Ra eonni panjang.
“Aneyong
Li Ra Noona, aneyong Hara-shii” sapa Minho ramah.
Igemwoya!
Dia malah menyapa kami? Benar-benar mencurigakan!!
“Nado”
ucapku ketus. “Apa persyaratanmu, eoh?” tanyaku dingin.
“Aku
akan mengungkapkan sesuatu, yang kau harus menjawabnya!” ujar Minho sambil
menggerak-gerakkan tangannya.
Aku
menaikkan alisku, “Hm?” hanya suara itu yang dapat keluar. Aku menatap Li Ra
eonni, yang kulihat sekarang badannya lemas, mendengar syarat dari Minho itu.
“Paboya” umpatku dengan suara berbisik.
“Maukah
kau…” Minho memulai mengungkapkan ‘sesuatu’ itu. Entahlah apa. Para Shawol
sangat berharap bahwa Minho bukan mengungkapkan ‘itu’. Aku tau apa yang Shawol
pikir tentang ‘itu’. Tapi aku tidak tau ‘sesuatu’ yang akan diungkapkan Minho.
“Menjadi…” lanjutnya pelan. Membuat para Shawol semakin penasaran, semakin
melotot, sangat berharap. “Adik iparku?” katanya mengakhiri.
Seketika
tersungging senyum lebarku, lalu aku melirik Li Ra eon yang sedang tersipu.
“Tentu saja!” jawabku antusias.
“Gomawo
Hara,” kata Minho. Aku hanya mengangguk, “Saeng…” lanjutnya. “Gomawo Li Ra”
ucapnya lagi sambil menatap Li Ra eonni.
“Omona~”
ucapku geli melihat pemandangan ini, “Sarang Story” ucapku memberi mereka judul
tersendiri. Akupun melihat dari
kejauhan, Taemin datang. Oh, gilirannya!
“Noona!”
sapa Taemin sangat ramah.
Aku
tersenyum ramah, “Nde. Apa yang kau minta?” tanyaku bak jin yang keluar dari
teko emas jika digosok tiga kali.
“Aku
ingin kau menjadi Noona-ku. Itu saja!” ucap Taemin antusias.
“Mwo?
Itu saja?” tanyaku bingung.
Taemin
hanya mengangguk, “Ne, hanya Noona-lah yang selama ini menjaga hatiku, layaknya
Noona-ku sendiri. Noona yang selalu menemaniku, saat aku sedih, kutuangkan isi
hatiku padamu. Jadi, aku meminta kau menjadi Noona-ku. Aku tidak peduli kalau
orang tua kita berbeda. Aku tidak pernah merasakan punya Noona—ya hanya karena
aku anak tunggal—itu saja” jelasnya panjang lebar bak penyair puisi,
intonasinya yang sangat puitis, membuatku tertawa kecil—gemas.
“Baiklah~”
ucapku enteng. “Tapi ada syaratnya!” sambungku.
“Apa
itu, Noon?” tanya Taemin penasaran.
“Siapa
yeoja yang kau ceritakan tadi?” ujarku sambil melipat tanganku didepan dadaku.
“Aish,
Noona, tapi jangan ditempat umum seperti ini!” keluh Taemin setengah berbisik.
“Aku
tak peduli,” ucapku memicingkan mataku.
“Ah,
baiklah, apapun kulaksanakan asal kau jadi Noonaku” kata Taemin pasrah, akupun
tersenyum penuh kemenangan, “Nae Ra-shii” jawab Taemin.
-shii?
Dia memanggilnya dengan embel-embel ‘-shii’? Dan, apa aku tak salah dengar?
Nama itukan eonni-nya Naeun. Yah, tapi kuakui mereka berdua tidak berbeda
umurnya, tetapi hanya tua Nae Ra beberapa bulan saja.
Aku
ingat! Nae Ra, anak paling dikenal kepintarannya lewat penampilannya yang
berkacamata. Memang tubuhnya langsing, aku iri dengan tubuhnya, tetapi tak ada
yang menyukainya—maksudku suka dengan maksud cinta—padahal dia cantik, selalu
tampil simple, rambutnya tergerai panjang dan lurus.
Tak
lama datang yeoja dengan kacamata berbingkai hitamnya, tetapi dia lebih manis,
karena dia memakai pita merah dirambutnya. Yeppeoda~ “Naneun?” tanya Nae Ra.
“Ne,
Nae Ra…” jawab Taemin. Oke, bebanku berkurang ‘satu’ lagi. Dan sekarang tinggal
dua, paling susah ditebak, ‘Jonghyun dan Key’!
Tak
lama Jonghyun, Key, dan Jinki datang. “Aku gunakan untukmu, Key” kudengar Jonghyun
berbisik kepada Key. “Gwenchana, aku punya satu saja, bukan dua” balas Key.
Tapi Jonghyun tak menghiraukan Key, lalu memasang wajah tampannya didepanku.
“Siapa
namja yang kau sukai?” tanya Jonghyun.
“Tidak
ada” jawabku ringan.
“Noona,
kau kan yang bilang sendi…”
“Aniya,
Key. Aku sudah tidak menyukainya” potongku.
“Baiklah,
kalau begitu siapa namja yang dulu kau sukai?” tanya Jonghyun lagi.
Aku
diam, aku tidak mau menjawabnya, aku sudah terlanjur menganggap Hyun Soo
menjadi ‘Stranger’ atau ‘Orang asing’ dalam hidupku. “Eum, Key tau”
jawabku kemudian.
“Noona
yang benar saja mau menyebarkannya?” tanya Key ragu.
“Ne,
sebarkan saja. Lagipula, dia membalik kata-katanya sendiri—yang saat itu
menjadi petunjuk dari Jinki” jawabku santai. Ah, tidak apa Hyun Soo tau.
“Aku
tau Noona, kau sudah menyukainya sejak kelas 11, aku tidak mau menyakitimu,
hanya itu” tolak Key.
‘Noona’.
Suara Key mengiang ditelingaku, dia yang selalu memanggilku ‘Noona’, berbeda
dengan Jonghyun. Jinki sudah kucoret, Taemin juga sudah, sekarang, kata-kata
petunjuk itu saja yang hanya dimiliki oleh, ‘KEY’.
Tiba-tiba
turun salju lebat. Aku mengingat kejadian dulu, “Snowflake” ucap Key
sambil memandangi salju yang turun—judul lagu yang sudah kuperkirakan dengan Li
Ra eonni.
“Benar,
itu kau!” seruku lalu menunjuk Key dengan jari telunjukku.
“Apa?
Benar apanya?” tanya Jonghyun dan Jinki bergantian.
“Key,
kenapa kau tidak bilang padaku?” tanyaku lalu menarik tangan Key agar ia bisa
menatapku.
“Jeongmal
Saranghae…” hanya kata itu yang terucap dari Key. “Mianhae Noona, aku tidak
memberitaumu sejak dulu, juga teman-teman yang lain. Karena kau sudah menyukai Hyun Soo, apalagi
sejak kelas 11” sesal Key sambil tertunduk.
“Andwe,
lupakan soal Hyun Soo. Dia…” aku berucap
sambil melirik Hyun Soo yang tengah berdiri tak jauh dariku. “Dia tidak
membuatku nyaman, dia hanya cinta biasa…” sambungku tak lepas dari pandanganku
pada Hyun Soo.
“Jadi,
lagu Snowflake adalah lagu cinta kalian ya!” seru Taemin tiba-tiba.
“Lagu
cinta?” aku dan Key berucap bersamaan.
“Hara,
mianhae aku sengaja menjebakmu saat itu, dengan nada lagunya Key” kata Hyun Soo
kemudian.
Aku
menatapnya, “Lagunya Key?” aku mengerutkan kening, masih tak mengerti semuanya.
“Ne,
Noona. Itu memang lagu buatanku…” kata Key masih menggantung, “Untukmu”
akhir-nya.
“Untukku?
Jincha?” aku bersorak gembira. Lalu segera melompat dan memeluk Key, dibalas
pelukan khasnya—yang membuatku selalu nyaman dan tenang.
“My
Snow Hug”
END~
***
Hoahh,
akhirnya selesai juga. Thor dua kali berhenti nulis ini, mikirr terus gimana
ngelanjutinnya. Sampai Thor baca buku cara buat cerpen, akhirnya bisa juga
ngelanjutin, walaupun diselingi tidur, makan, tidur, makan, kekeke~
Seru
gak nih cerita? Ngantung yah? Masa sih? Siapa yang bilang gitu coba T_T
Oya,
Thor mohon maaf kalo waktu shoot pertama Jinki atau Onew Thor tulis ‘Onew’
sedangkan di shoot kedua Thor tulis ‘Jinki’. Habisnya Thor dilemma, hehehe,
kalo nulis ‘Onew’ kesannya kurang sopan gimana gitu sama idola, akhirnya shoot
kedua jadi ‘Jinki’ deh. Hehehe~
Oh,
lupa. Kalo mau dengerin lagu ‘Snowflake’ yang super unyu itu—lagu
anak-anak—cari di youtube sendiri yah, hehehe, tinggal tulis ‘Snowflake Super
Simple Learning’. Trus dengerin deh, paling baik kalo dengerin lagu itu sambil baca FF ini,
wah unyu berat deh, biar lebih menghayati gimana gitu.
Thor
pengen nuangin semua FF Thor yang lagi numpuk kesini, so, ditunggu ya FF seru
lainnya, jangan lupa tinggalkan komentar, saran, kritik dan lain sebagainya :D
DONT BE SILENT READER!
DONT BE A PLAGIATOR!!!
DONT BE SILENT READER!
DONT BE A PLAGIATOR!!!







