RSS

Snow Hug [Shoot 2]


Tittle: Snow Hug
Scriptwriter: Aldila / leeunra
Cover: Me / Author
Main Cast:
-          Goo Hara Kara
-          Kim Kibum (Key) SHINee
Support Cast:
-          Goo Li Ra (OC)
-          Park Hyun Soo (OC)
-          Member SHINee
Genre: Romance
Duration: Twoshoot
Rating: 13
Summary:

“Snowflake”

“Benar, itu kau!”

***

Halo halo, Author datang membawa shoot kedua alias endingnya. Kali ini masih dengan otak author sendiri. Tapi didalam sini, waktu adegan Namja pemeluk eh maksudnya namja misterius yang menyanyikan suatu lagu buat Hara. Nah, lagu itu thor dapat dari lagu anak kecil. Haha, biarin deh, yang penting nyambung sama salju. Judulnya ‘Snowflake’. Itu bukan lagu bahasa Indonesia, tapi bahasa Inggris. Lagu ini lyricnya cuman gitu-gitu aja, tapi mellow dan gak tau kenapa Thor jadi suka. Waktu muter lagunya bareng adek yang masih kecil, eh langsung kepikir. Apalagi didalam video lagu itu ada sepasang boneka salju—cewek cowok—menari bersama gitu.

Happy Wacthing!

***

Snowflake Snowflake
Little Snowflake Little Snowflake
Falling from the sky

Snowflake Snowflake
Little Snowflake Little Snowflake
Falling Falling Falling Falling Falling…
Falling on my Head
Falling on my Nose
Falling in my Hand…

***

-Pervious-

“Lagu itu!”  seru Hara menoleh lalu memandangi punggung Hyun Soo yang menjauh.

Li Ra ikut menoleh, “Lagu apa?” tanya Li Ra bingung.

“Nada lagu yang dinyanyikan Hyun Soo adalah lagu yang dinyanyikan namja itu saat memelukku” jawab Hara.

“Sepertinya namanya perlu dimasukkan dalam buku catatan” ucap Li Ra lalu melakukan ‘smirk’ pada Hyun Soo yang sudah hilang dalam pandangan.

***

-Relacty Café-
17 December 2012

“Sepertinya kita salah memasukkan nama Hyun Soo” ucap Li Ra lalu mengetuk-etuk polpennya pada nama ‘Hyun Soo’ di buku catatan Hara.

“Jincha? Mengapa begitu?” tanya Hara bak detektif sedang menyelidiki tersangka.

“Ne, kau ingat kan kata-kata Hyun Soo sendiri, kalau ‘Namja itu salah satu dari member SHINee’ dan SHINee hanya ada lima bukan enam!” jawab Li Ra sangat jelas membuat Hara mengangguk-angguk setuju.

“Tapi, bagaimana bisa dia tau lagu itu?” tanya Hara lalu menyeruput Moccachino.

“Entahlah, mungkin dia teman dekat namja itu” jawab Li Ra tak bisa berterus-terang.

“Kalau tidak begitu, Hyun Soo adalah teman curhat namja itu. Secara, dia tau siapa namja itu, sampai dia tau lagu itu” ucap Hara mengira-ngira.

“Bisa jadi,” komentar Li Ra lalu menyangga dagunya dengan sebelah tangannya. “Bisa jadi Hyun Soo menjebakmu!” seru Li Ra lalu mengacungkan telunjuknya pada adiknya

Hara mengerutkan kening tak mengerti, “Menjebak?” tanya Hara.

“Ne, menjebak. Maybe dia sudah tau kalo Hyun Soo dan kau akan berpapasan, dan saat itu dia sengaja bersenandung dengan nada lagu itu, sengaja membuatmu terjebak, membuatmu tambah bingung” jelas Li Ra.

“Perlu kita selidiki Hyun Soo” ucap Hara kemudian.

***

Hara POV

Kantin
-Sworlt High School-
18 December 2012

“Tolong beritau siapa namja itu, Hyun” ucap Hara memohon dengan wajah memelas layaknya anjing kelaparan minta makan.

“Mianhae, Hara. Soal yang dulu, juga soal yang ini. Aku tidak bisa memberitaumu” kata Hyun Soo lalu menggeleng pelan.

Aku sudah tidak mencintaimu, ingat itu, Hyun Soo. Kalaupun kau meminta maaf padaku soal adegan bohongmu, aku tetap mengeluarkan kau dari hatiku. Karena kau tidak bisa membuatku nyaman, kau tau, hanya Namja misterius itu yang dapat membuatku nyaman, tenang, dan damai. Aku juga yakin dia baik, tidak sepertimu

“Hara” panggil Hyun Soo membuyarkan lamunanku.

Aku tersentak, melompat kecil, lalu mengatur detak jantungku yang tiba-tiba tak beratur, “Oh, Mian. Ne, aku memaafkanmu, tapi…”

“Tapi? Tapi apa?” tanya Hyun Soo mengangkat sebelah alisnya.

“Tapi, tolong beri aku petunjuk tentang namja itu” jawabku kemudian.

“Ehm, baiklah, Tingginya…”

“Tingginya aku tau, tubuhnya yang khas tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata aku tau, dan suaranya pun juga tau. Petunjukmu apa?” ucapku memotong kata-katanya. Hanya petunjuk itu yang kutau.

“Ehm, rambutnya Hitam” ucap Hyun Soo sedikit berat.

“Semua membernya berambut hitam, pabo!” ucapku melontarkan jitakanku pada Hyun Soo.

“Appo! Kau ini diberi tau malah menjitakku sembarangan!” ucap Hyun Soo kesal.

“Kau yang sembarangan! Beritau petunjuk yang berbeda. Bukan suatu persamaan antara kelimanya!” ucapku tak kalah kesal.

“Ne, Ne!” ucap Hyun Soo. “Ehm, apalagi yang harus kukatakan? Yang tersisa dalam otakku adalah, dia pernah berbicara denganmu” Hyun Soo menyeringai lalu tertawa kecil.

“Aish! Itu juga persamaan anatara kelimanya, paboya!” ucapku siap menjitak Hyun Soo lagi.

“Ada apa ini?” tanganku berhenti ketika melihat Jinki menahan tanganku.

Aku mencoba melepaskan tanganku, “Igemwoya!” ucapku kesal.

“Jangan seenaknya menyiksa Hyun Soo!” ucap Jinki dingin.

Akupun berhenti mencoba melepas tanganku, memandangi setiap wajah dari kelimanya, lalu menatap wajah Jinki, dia berubah dingin?

“Ada apa denganmu?” tanyaku tak kalah dingin.

“Kubilang jangan seenaknya menyiksa Hyun Soo” jawab Jinki kembali dingin.

“Ahaha, ini hanya bercanda. Memang kau siapanya? Eomma? Appa? Atau Harabujinya Hyun Soo?” ucapku pedas.

Jinki melepas tanganku kasar. “Kau tak perlu berperilaku memaksa padanya. Hanya katakan apa yang akan kau tanyakan” Jinki mengabaikan kata-kata pedasku lalu berubah kata-kata memberi kesempatan.

Dia akhir-akhir ini aneh, berkata dingin padaku, tidak mempedulikan ejekan pedasku, dan dia bilang sendiri kalau dia sedang tidak mood bertengkar denganku? Hah? Apa benar ini Jinki?

“Oke, mudah sekali. Hanya, aku ingin tau, siapa namja itu?” ucapku tanpa ragu. Aku tau mereka pasti tau yang kusebut ‘itu’. Tak perlu kujelaskan panjang lebar.

“Sangat mudah, kau hanya perlu memanggilku ‘oppa’ didepan seluruh Shawol, dengan suara imut dan manis, bukan suara dingin ataupun biasa, apalagi berteriak” jelasnya memberi syarat.

Raut wajahku seketika berubah ketika mendengar syarat itu. “Tidak ada syarat yang lain apa?” ucapku keki.

“Oh, kau mau syarat yang lain, oke, nanti Key, Jonghyun, Minho, dan Taemin akan memberikannya. Sekarang, tuntaskan syarat pertamamu dariku!” ucap Jinki.

“Mwo!? Maksudku syaratnya diganti, bukan ditambah!” ucapku membentaknya.

“Baiklah, kalau tidak mau, kami tidak akan memberitau” ucap Jinki mengancam.

“Aish, aku tidak bisa bersuara imut!” ucapku beralasan.

“Tidak usah beralasan! Cepat lakukan!” ucap Jinki seakan tau kalau aku hanya beralasan.

Aku memanyunkan bibirku. Aku menghela nafas panjang, melihat sekeliling, berharap Li Ra eonni menolongku dari hal seperti ini. Ah tapi sia-sia, aku tau Li Ra eonni sedang kunjungan sendiri di sebuah Gedung Penelitian Ilmiah, berbeda dengan Jinki, dia tidak dapat kunjungan apapun padahal sekelas dengan Li Ra eonni.

Aku melihat para Shawol, mereka tampak sedikit tak peduli, banyak yang pergi, mereka lebih memilih menikmati jajanan, ya, ini memang tidak penting, aku masih memperhatikan mereka, memeriksa adakah yang membawa kamera.

“Huft…” aku mengambil nafas lalu menghembuskannya. “Oppa~” ucapku dengan suara imutku dan wajah yang meyakinkan. Aku segera melihat Shawol, mereka tak tertarik.

“Ya! Lihat, mereka tidak tertarik! Buat mereka tertawa dengan syaratku tadi” ucap Jinki seenaknya. “Kalau perlu, tambahkan kata-kata lain sampai membuat mereka tertarik!” sambungnya.

“Mwo! Aku bukan binatang, Jinki!” bentakku kasar. Lalu segera memukulinya.

“Ya! Baiklah, kami tidak akan memberitaumu!” ancam Jinki.

“Ne! Ne! aku akan tujukan kata-kata ‘oppa’ kepada namja itu, kuharap kau mendengarnya” ucapku mengumumkan.

Glek!

Aku kembali menarik nafas dan menghembuskannya panjang, “Oppa Neomu Kyeopta~” ucapku dengan suara imutku lagi dan wajahku yang lebih imut daripada yang tadi.

Kulihat mereka semua tersenyum, bahkan Taemin tertawa. Para Shawol banyak yang berbisik sambil tertawa.

Aku segera menutup wajahku dengan kedua tanganku lalu menggeleng, “Sudah puaskah kau?” ucapku berteriak setelah aku membuka kedua tanganku dan menunjukan wajah murka-ku.

Tet~ Tet~

“Oh, bel masuk” ucap Jinki santai lalu tersenyum ramah.

“Kau tinggal memberitau siapa namja itu!” teriakku sambil menarik lengan Jinki.

BRUK!

Oh, Sial, aku terjatuh didepan Jinki—lebih tepatnya jatuh tersungkur. Sukses mendapati simpati orang yang berlalu-lalang. Sekarang aku tau apa yang dipikirkan mereka, “Kasihan sekali dia,” ucap salah seorang. “Iya, kasihan ya, cintanya ditolak” sambung yang lain.

Aku segera menghela nafas panjang, mengigit bibir bawahku. “Memalukan!” umpatku sendiri.

“Gwenchana?” tanya Jinki menawarkan tangannya.

Aku terkaget, “Hmm?” hanya itu suara yang bisa kulontarkan. “Aniya, aku bisa berdiri sendi…” ucapku sambil mencoba menyangga tubuhku dengan tanganku, “Aww…” rintihku ketika gagal berdiri sendiri dengan tangan yang menyangga.

“Aish, gadis merepotkan!” umpat Jinki lalu segera menarik kasar tanganku lalu membantuku berdiri.

Suaraku tertahan, ingin rasanya mengucap ‘terima kasih’ lalu segera menghambur pergi. Tapi entah kenapa mulutku terasa dikunci. “Gam…”

“Hara!” panggil suara khas Li Ra eonni.

Aku segera menoleh keasal suara, lalu kembali memandang Jinki, segera membungkuk tanda terima kasih lalu menghambur pergi. Tapi langkahku tertahan.

“Kau hanya harus mengingat kata-kata Hyun Soo” bisik Jinki dingin ditelingaku. Lalu melepaskan genggamannya, aku menatapnya heran.

“Kata-kata?” tanyaku—mengurungkan niatku untuk menghambur ke Li Ra eonni—karena Jinki terlihat sangat misterius.

“Ya, dan pertahankan suara manismu itu” jawabnya tersenyum manis lalu memasukkan kedua telapak tangannya kedalam saku celananya.

Li Ra eonni sudah berada disampingku ketika Jinki baru saja menghilang dari pandanganku. “Apa yang dikatakannya?” tanya Li Ra eonni.

“Dia sangat mencurigakan, eon” jawabku antusias.

***

-Goo Family House-
18 December 2012

“Hara, pertunjukanmu tinggal 2 hari lagi!” seru Li Ra eonni lalu mengangkat garpunya—bahagia.

“Yak! Eonni! Jangan angkat garpumu” ucapku keki lalu melindungi kepalaku—berubah menjadi paranoid.

“Hehe,” Li Ra eonni tertawa kecil lalu menurunkan garpunya. “Mianhae, Hara. Oya, aku mau tanya, apa yang kau maksud dengan kata-kata tadi di sekolah ‘Dia sangat mencurigakan’?” tanya Li Ra eonni—menirukan suaraku yang berbisik saat memberitau keanehan Jinki tadi.

“Ah, itu. Kau tau, saat aku menyelidiki tersangka—Hyun Soo—dia datang dan memarahiku karena menjitak Hyun Soo—dan itu terlihat seperti sangat peduli, ehm, ralat, maksudku terlihat sangat akrab—layaknya sahabat. Akhirnya aku menanyakan siapa namja ‘itu’, tetapi dia memberiku syarat, yah, mau tak mau aku harus menurutinya…” ceritaku panjang lebar.

“Dan saat aku hendak menghambur menujumu, dia menahan tanganku lalu berkata ‘Kau hanya harus mengingat kata-kata Hyun Soo’.” Ucapku menirukan suara dingin Jinki. “Lalu aku bertanya ‘Kata-kata?’ dan saat itu pula dia berkata ‘Ya, dan pertahankan suara manismu’.” Sambungku kembali menirukan suara Jinki. “Setelah itu dia tersenyum manis!” ucapku mengakhiri. “Kupikir dengan kata-kata ‘Mengingat kata-kata Hyun Soo’ Jinki hanya memberitau petunjuk saja” jelasku diakhir cerita.

“Ehm, Hara” panggil Li Ra eonni dengan wajah serius.

Aku menaikkan alisku, “Ne?” tanyaku.

“Kupikir, kau memang harus memanggil Jinki dengan kata ‘oppa’ dan suara manismu itu” ucap Li Ra eonni mengangguk-angguk.

“Mwo?” aku tersentak kaget.

“Ne, itu lebih sopan. Kau tau, jujur aku juga tidak suka kau memanggil Jinki tanpa kata sopan ‘oppa’ walaupun dia musuhmu” kata Li Ra eonni menyambung alasannya.

“Disangka aku yeojachigunya?” ucapku memberi alasan.

“Aniya, itu tidak akan” jawab Li Ra eonni lalu memainkan kuku-kukunya.

Aku menghela nafas, “Aku sungguh membencinya!” umpatku dengan suara tinggi.

Li Ra eonni melirikku tanpa merubah posisinya, “Kupikir kau akan jadi adik kelas yang sangat tidak baik dengan membenci kakak kelasmu” ucapnya masih mempertahankan posisinya.

“Hhh… eonni…” rengekku.

“Aku tidak memaksamu” kata Li Ra eonni lalu menaikkan bahunya.

Tiba-tiba hening. “Aku tak tau bagaimana  nasibku jika mendapat perlakuan aneh yang disebut ‘syarat’ oleh mereka. Rasanya aneh, seakan aku masih punya utang 4 ribu juta won” jelasku memecahkan keheningan.

“Tenang saja, Hara. Besok Eonni akan menemanimu, jadi jika kau mendapat perlakuan aneh, kau bisa mengandalkanku” ucap Li Ra eonni layaknya seorang superhero.

“Ahh, eonni, gomapta~” ucapku dengan suara manisku.

“Cheonma~” balas Li Ra eonni menirukan suara manisku. Lalu kami tertawa bersama.

“Bagaimana dengan kata-kata ‘Mengingat kata-kata Hyun Soo’ ?” tanyaku tak habis pikir.

“Kau harus mengingat-ingat kata-kata Hyun Soo. Itu maksudnya, ehm, ralat, maksudku kata-kata penting yang menyangkut ‘namja itu’.” Jawab Li Ra eonni.

“Ehm, kata-kata apa ya?” gumamku.

“Oh!” seru Li Ra eonni. Sontak aku memandangnya dengan wajah serius, “Kenapa kau berhenti menyukai Hyun Soo?” tanya Li Ra eonni.

“Oh, ayolah, eonni. Bukan saatnya mengingat masa laluku dengan Hyun Soo!” ucapku kesal.

“Ani, bukan itu. Jawab aku, aku bisa memberi petunjuk akan ‘kata-kata’ dari ‘Hyun Soo’.” Ujar Li Ra eonni tampak sangat serius.

“Karena dia membentakku?” ucapku setengah ragu.

“Nah, dia membentak apa?” tanya Li Ra eonni dengan nada terdesak, seperti orang tak sabar melahap makanannya.

“Ehm, ‘KAMU TIDAK PERNAH PEKA!’.” Teriakku menirukan suara Hyun Soo saat itu.

“Ya! Betul! Kau tidak peka! Dan kau perlu memperdalam sosialmu dengan SHINee!” sorak Li Ra eonni.

“Tunggu, tidak mungkin kalau namja ‘itu’ adalah ‘Jinki’. Secara, saat Jinki bertengkar denganku, dia tidak pernah menampakkan wajah kecewanya. Yang sebelum Hyun Soo membentakku, dia berkata yang intinya adalah ‘namja itu memiliki wajah kecewa saat aku berteriak aku membenci SHINee’.” Jelasku panjang.

“Ne! kau benar! Sekarang Jinki dicoret!” kata Li Ra eonni mencoret nama ‘Jinki’ di buku catatanku menggunakan garpunya.

“Yak! Eonni, kenapa memakai garpu! Ini akan menimbulkan bekas dikertas selanjutnya!” seruku kesal.

“Eh, mianhae. Yang penting beban kita berkurang ‘satu’!” kata Li Ra eonni menahankan kata-kata ‘satu’ sambil mengacungkan jari telunjuknya didepanku.

“Ne, tapi, jika beban kita tinggal ‘dua’ yaitu Key dan Jonghyun, itu malah semakin berat, eon!” ucapku dengan nada pasrah.

“Jangan pasrah, Ra” kata Li Ra eonni lalu tersenyum sambil menepuk pundakku. “Oh, sebentar” sambung Li Ra eonni lalu meraih handphone-nya dan berlalu pergi.

“Aish…” desahku lesu.

“Kau tidak perlu tau, Noona. Jeongmal Saranghae”

Kata-kata itu selalu mengiang ditelingaku. “NOONA!!” sorakku girang. “Ne! kata ‘Noona’ membantuku!” sambungku masih bersorak, lalu segera mengepalkan kedua tanganku lalu menaik-turunkan menandakan kata ‘Yes!’.

***

School Garden
-Sworlt High School-
19 December 2012

Snowflake Snowflake Little Snowflake Little Snowflake Falling from the Sky” aku menyanyi kecil dibawah pohon yang rindang—bersama Li Ra eonni.

“Menurutmu judulnya apa?” tanya Li Ra eonni mendengarkan suaraku.

Little Snowflake? Atau Little Snowflake falling from the Sky?” jawabku asal.

“Judul macam apa itu, panjang sekali” komentar Li Ra eonni mengerutkan keningnya.

Snowflake?” tanyaku mencoba lagi.

“Masuk akal juga!” komentar Li Ra eonni lalu mengacak rambutku gemas.

“Yak eonni!” rengekku menepis tangan Li Ra eonni lalu membenahi rambutku.

“Hm, Mianhae” ucap Li Ra eonni lalu tersenyum lebar sampai matanya berbentuk huruf ‘n’.

Aku ikut tersenyum, lalu mengedarkan pandanganku pada taman sekolah ini. Sangat sejuk, aku merasakan hembusan angin yang sepoi-sepoi membiarkan setiap helaian rambutku menari-nari.

Aku menghentikan pandanganku, lalu mencoba meyakinkan apa yang kulihat. Taemin? Dia duduk sendiri dibawah pohon sambil tertunduk. “Eonni, sepertinya aku ada urusan. Tinggalkan aku saja, ya” ucapku tanpa memandang Li Ra eonni.

“Oh, jincha? Baiklah, kalau acara persyaratan itu dimulai, beritau aku ne!” seru Li Ra eonni, aku hanya mengangguk tanpa menoleh pada Li Ra eonni.

 Aku pun berjalan mendekati Taemin. Hanya dia member SHINee yang masih duduk di kelas 11.

“Taemin?” sapaku.

Dia mendongak, lalu memandangku sejenak. “Noona…” rengeknya seakan meminta pelukan.

“Kau butuh pelukan?” tanyaku.

Dia mengangguk lemah, sepertinya dia sedang mengalami masalah ‘cinta’. Kuraih tangannya, lalu segera memeluknya.

5 menit…

Disini hening, Shawol kelas 11 memperhatikan kami. Aku hanya diam, tidak berani bertanya macam-macam padanya. “Kau sudah baikan?” tanyaku dengan posisi masih memeluknya.

Dia diam saja. Aku mengeratkan pelukanku, lalu mengelus pundaknya, “Bisakah kita lepas sebentar, kau butuh tempat sepi tanpa penggemarmu” ucapku pelan.

Taemin mengangguk, lalu melepaskan pelukan kami. Akhirnya aku dan Taemin berjalan menuju tempat yang lebih sepi.

Aku duduk didepan Taemin—dibawah pohon. “Aku sakit hati, Noona…” ungkap Taemin tertunduk.

“Soal Naeun?” tanyaku dengan suara lembut, tetap menjaga hatinya.

Taemin mengangguk pelan, “Dia sudah ada yang punya” sambung Taemin.

Hening sejenak. “Bagaimana kau tau?” tanyaku lagi.

“Aku melihatnya sendiri. Dia bermesra-an dengan namja lain,” jawabnya.

“Mungkin itu saudaranya, sepupunya, atau oppanya” ucapku lalu mengambil duduk disamping Taemin, segera merangkulnya, lalu mengelus-elus bahunya.

“Aniya, Noona. Aku melihatnya sendiri, dia dan namja itu berpelukan, bergandengan tangan, karena aku tau Naeun hanya mempunyai Eonninya, dan tidak mungkin sepupunya, ponakannya ataupun saudaranya semesra itu…” jelas Taemin.

“Kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk bercerita. Tenangkan dirimu dulu…” ucapku masih mengelus-elus bahunya.

“Andwe, Noona. Aku hanya ingin menuangkan isi hatiku padamu. Kalaupun itu Hyungku, mereka tidak pernah mengerti, hanya kata ‘sabar’lah yang muncul” ungkap Taemin lagi.

“Mungkin kau perlu jeda untuk tidak mencintai siapapun dulu” ucapku memberi saran.

Yah, selama ini, aku memang selalu menjadi tempat curhat untuk Taemin. Dia sudah kuanggap adik sendiri, tidak lebih. Kurasa hanya dialah yang dekat denganku—diantara member SHINee yang lain.

Taemin menggeleng mantap, “Aku sudah menemukan penggantinya, Noon” ujar Taemin.

Aku tersenyum geli, “Jincha?” tanyaku dengan suara manisku, lalu menatap Taemin yang sudah kembali bersemangat.

Lalu Taemin mengangguk, “Yang aku sudah yakin kalau yeoja itu tidak memiliki Namjachigu” ucap Taemin antusias.

“Jeongmal? Boleh aku tau siapa dia?” tanyaku penasaran.

“Dia kakak kelasku” jawab Taemin.

Deg!

Kakak kelas katanya? Oh aku harus menanyakan lebih dalam. “Apa kau pernah berbicara dengannya?” tanyaku lagi.

Taemin mengangguk, “Aku berbicara dengannya dan bertemu dengannya pertama kali saat MOS” jawab Taemin lebih jelas.

MOS? Dialah adik kelas pertama yang mampu beradaptasi denganku. Dan kurasa hanya akulah yang dekat dengannya saat MOS.

“Jincha?” tanyaku antusias.

“Ne, dan dialah yang membuatku lebih nyaman…” jawab Taemin—diakhiri suaranya yang tampak lesu kembali. Dia menatapku, “Noona, maukah kau memelukku lagi?” tanyanya.

Aku terkejut mendengarnya, aku rasa akulah yeoja yang dimaksudnya. Aku harus memeluknya lagi, aku harus merasakan, apa aku merasakan kenyamanan yang sama. Oh, sial! Taemin masuk dalam buku catatanku!

“Kemana yeoja yang baru kau sukai itu? Kau bilang dialah yang membuatmu nyaman, kenapa tidak dia saja?” tanyaku penasaran. Inilah pertanyaan yang cantik, dapat menjawab semuanya yang mencurigakan dari 'Yeoja yang dicintai Taemin' yang baru.

“Karena pelukanmu sama dengan pelukannya…” jawab Taemin ragu.

Mataku terbelalak, sama? Jadi bukan aku? Oh, Syukurlah! Tapi ini bisa menjadi jebakan, bisa jadi arti ‘sama’ adalah ‘satu’ yaitu diriku.

“Jincha? Em, baiklah” ucapku basa-basi. Segera kuraih tubuh Taemin, kupeluk penuh kasih sayang. Pelukan inilah pelukan yang paling kuinginkan sejak dulu, pelukan adik-kakak. Taemin, jika kaulah namja itu, jeongmal mianhae, aku tidak akan mencintaimu sebagai pemilik hati, tetapi mencintaimu sebagai pemilik peran ‘adik’ dalam hidupku.

Snowflake Snowflake…” aku mulai menyanyi—yang sama saat namja misterius itu memelukku.

“Gomawo, Noona” ucap Taemin lirih.

***

Kantin
-Sworlt High School-
19 December 2012

Aku duduk menunggu persyaratan itu datang. Aku duduk disamping Li Ra eonni, sesuai kata-katanya kemarin, dia akan menjagaku selagi acara itu dimulai.

Dari kejauhan—kantin di sekolah ini memang sangat luas—terlihat Minho berjalan. Oh, giliran kedua—setelah kemarin Jinki—ternyata Minho. Li Ra eonni sangat antusias.

“Yak! Eonni! Jangan sesekali terpesona padanya, saat dia benar-benar menyiksaku nanti” bisikku pada Li Ra eonni yang melamun sendiri membayangkan dirinya dengan Choi Minho.

“Ne~” jawab Li Ra eonni panjang.

“Aneyong Li Ra Noona, aneyong Hara-shii” sapa Minho ramah.

Igemwoya! Dia malah menyapa kami? Benar-benar mencurigakan!!

“Nado” ucapku ketus. “Apa persyaratanmu, eoh?” tanyaku dingin.

“Aku akan mengungkapkan sesuatu, yang kau harus menjawabnya!” ujar Minho sambil menggerak-gerakkan tangannya.

Aku menaikkan alisku, “Hm?” hanya suara itu yang dapat keluar. Aku menatap Li Ra eonni, yang kulihat sekarang badannya lemas, mendengar syarat dari Minho itu. “Paboya” umpatku dengan suara berbisik.

“Maukah kau…” Minho memulai mengungkapkan ‘sesuatu’ itu. Entahlah apa. Para Shawol sangat berharap bahwa Minho bukan mengungkapkan ‘itu’. Aku tau apa yang Shawol pikir tentang ‘itu’. Tapi aku tidak tau ‘sesuatu’ yang akan diungkapkan Minho. “Menjadi…” lanjutnya pelan. Membuat para Shawol semakin penasaran, semakin melotot, sangat berharap. “Adik iparku?” katanya mengakhiri.

Seketika tersungging senyum lebarku, lalu aku melirik Li Ra eon yang sedang tersipu. “Tentu saja!” jawabku antusias.

“Gomawo Hara,” kata Minho. Aku hanya mengangguk, “Saeng…” lanjutnya. “Gomawo Li Ra” ucapnya lagi sambil menatap Li Ra eonni.

“Omona~” ucapku geli melihat pemandangan ini, “Sarang Story” ucapku memberi mereka judul tersendiri.  Akupun melihat dari kejauhan, Taemin datang. Oh, gilirannya!

“Noona!” sapa Taemin sangat ramah.

Aku tersenyum ramah, “Nde. Apa yang kau minta?” tanyaku bak jin yang keluar dari teko emas jika digosok tiga kali.

“Aku ingin kau menjadi Noona-ku. Itu saja!” ucap Taemin antusias.

“Mwo? Itu saja?” tanyaku bingung.

Taemin hanya mengangguk, “Ne, hanya Noona-lah yang selama ini menjaga hatiku, layaknya Noona-ku sendiri. Noona yang selalu menemaniku, saat aku sedih, kutuangkan isi hatiku padamu. Jadi, aku meminta kau menjadi Noona-ku. Aku tidak peduli kalau orang tua kita berbeda. Aku tidak pernah merasakan punya Noona—ya hanya karena aku anak tunggal—itu saja” jelasnya panjang lebar bak penyair puisi, intonasinya yang sangat puitis, membuatku tertawa kecil—gemas.

“Baiklah~” ucapku enteng. “Tapi ada syaratnya!” sambungku.

“Apa itu, Noon?” tanya Taemin penasaran.

“Siapa yeoja yang kau ceritakan tadi?” ujarku sambil melipat tanganku didepan dadaku.

“Aish, Noona, tapi jangan ditempat umum seperti ini!” keluh Taemin setengah berbisik.

“Aku tak peduli,” ucapku memicingkan mataku.

“Ah, baiklah, apapun kulaksanakan asal kau jadi Noonaku” kata Taemin pasrah, akupun tersenyum penuh kemenangan, “Nae Ra-shii” jawab Taemin.

-shii? Dia memanggilnya dengan embel-embel ‘-shii’? Dan, apa aku tak salah dengar? Nama itukan eonni-nya Naeun. Yah, tapi kuakui mereka berdua tidak berbeda umurnya, tetapi hanya tua Nae Ra beberapa bulan saja.

Aku ingat! Nae Ra, anak paling dikenal kepintarannya lewat penampilannya yang berkacamata. Memang tubuhnya langsing, aku iri dengan tubuhnya, tetapi tak ada yang menyukainya—maksudku suka dengan maksud cinta—padahal dia cantik, selalu tampil simple, rambutnya tergerai panjang dan lurus.

Tak lama datang yeoja dengan kacamata berbingkai hitamnya, tetapi dia lebih manis, karena dia memakai pita merah dirambutnya. Yeppeoda~ “Naneun?” tanya Nae Ra.

“Ne, Nae Ra…” jawab Taemin. Oke, bebanku berkurang ‘satu’ lagi. Dan sekarang tinggal dua, paling susah ditebak, ‘Jonghyun dan Key’!

Tak lama Jonghyun, Key, dan Jinki datang. “Aku gunakan untukmu, Key” kudengar Jonghyun berbisik kepada Key. “Gwenchana, aku punya satu saja, bukan dua” balas Key. Tapi Jonghyun tak menghiraukan Key, lalu memasang wajah tampannya didepanku.

“Siapa namja yang kau sukai?” tanya Jonghyun.

“Tidak ada” jawabku ringan.

“Noona, kau kan yang bilang sendi…”

“Aniya, Key. Aku sudah tidak menyukainya” potongku.

“Baiklah, kalau begitu siapa namja yang dulu kau sukai?” tanya Jonghyun lagi.

Aku diam, aku tidak mau menjawabnya, aku sudah terlanjur menganggap Hyun Soo menjadi ‘Stranger’ atau ‘Orang asing’ dalam hidupku. “Eum, Key tau” jawabku kemudian.

“Noona yang benar saja mau menyebarkannya?” tanya Key ragu.

“Ne, sebarkan saja. Lagipula, dia membalik kata-katanya sendiri—yang saat itu menjadi petunjuk dari Jinki” jawabku santai. Ah, tidak apa Hyun Soo tau.

“Aku tau Noona, kau sudah menyukainya sejak kelas 11, aku tidak mau menyakitimu, hanya itu” tolak Key.

‘Noona’. Suara Key mengiang ditelingaku, dia yang selalu memanggilku ‘Noona’, berbeda dengan Jonghyun. Jinki sudah kucoret, Taemin juga sudah, sekarang, kata-kata petunjuk itu saja yang hanya dimiliki oleh, ‘KEY’.

Tiba-tiba turun salju lebat. Aku mengingat kejadian dulu, “Snowflake” ucap Key sambil memandangi salju yang turun—judul lagu yang sudah kuperkirakan dengan Li Ra eonni.

“Benar, itu kau!” seruku lalu menunjuk Key dengan jari telunjukku.

“Apa? Benar apanya?” tanya Jonghyun dan Jinki bergantian.

“Key, kenapa kau tidak bilang padaku?” tanyaku lalu menarik tangan Key agar ia bisa menatapku.

“Jeongmal Saranghae…” hanya kata itu yang terucap dari Key. “Mianhae Noona, aku tidak memberitaumu sejak dulu, juga teman-teman yang lain.  Karena kau sudah menyukai Hyun Soo, apalagi sejak kelas 11” sesal Key sambil tertunduk.

“Andwe, lupakan soal Hyun Soo.  Dia…” aku berucap sambil melirik Hyun Soo yang tengah berdiri tak jauh dariku. “Dia tidak membuatku nyaman, dia hanya cinta biasa…” sambungku tak lepas dari pandanganku pada Hyun Soo.

“Jadi, lagu Snowflake adalah lagu cinta kalian ya!” seru Taemin tiba-tiba.

“Lagu cinta?” aku dan Key berucap bersamaan.

“Hara, mianhae aku sengaja menjebakmu saat itu, dengan nada lagunya Key” kata Hyun Soo kemudian.

Aku menatapnya, “Lagunya Key?” aku mengerutkan kening, masih tak mengerti semuanya.

“Ne, Noona. Itu memang lagu buatanku…” kata Key masih menggantung, “Untukmu” akhir-nya.

“Untukku? Jincha?” aku bersorak gembira. Lalu segera melompat dan memeluk Key, dibalas pelukan khasnya—yang membuatku selalu nyaman dan tenang.

My Snow Hug

END~

***

Hoahh, akhirnya selesai juga. Thor dua kali berhenti nulis ini, mikirr terus gimana ngelanjutinnya. Sampai Thor baca buku cara buat cerpen, akhirnya bisa juga ngelanjutin, walaupun diselingi tidur, makan, tidur, makan, kekeke~
Seru gak nih cerita? Ngantung yah? Masa sih? Siapa yang bilang gitu coba T_T
Oya, Thor mohon maaf kalo waktu shoot pertama Jinki atau Onew Thor tulis ‘Onew’ sedangkan di shoot kedua Thor tulis ‘Jinki’. Habisnya Thor dilemma, hehehe, kalo nulis ‘Onew’ kesannya kurang sopan gimana gitu sama idola, akhirnya shoot kedua jadi ‘Jinki’ deh. Hehehe~
Oh, lupa. Kalo mau dengerin lagu ‘Snowflake’ yang super unyu itu—lagu anak-anak—cari di youtube sendiri yah, hehehe, tinggal tulis ‘Snowflake Super Simple Learning’. Trus dengerin deh, paling baik  kalo dengerin lagu itu sambil baca FF ini, wah unyu berat deh, biar lebih menghayati gimana gitu.
Thor pengen nuangin semua FF Thor yang lagi numpuk kesini, so, ditunggu ya FF seru lainnya, jangan lupa tinggalkan komentar, saran, kritik dan lain sebagainya :D

DONT BE SILENT READER!
DONT BE A PLAGIATOR!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

[TWOSHOOT] Snow Hug (Shoot 1)



Tittle: Snow Hug
Scriptwriter: leeunra
Main Cast:
-          Goo Hara Kara
-          Kim Kibum (Key) SHINee
Support Cast:
-          Goo Li Ra 
-          Park Hyun Soo 
Member SHINee
Genre: Romance
Warning:

Fanfict ini hanyalah cerita Fiksi belaka. Jadi jangan bash ataupun fanwar.
Don't Be Plagiator

Duration: Twoshoot
Rating: Teen
Summary:

“Nu—gu—ya?”

“Kau tidak perlu tau, Noona. Jeongmal Saranghae”

***
Fanfic ini ff twoshot pertama yang author publish disini. Thor itu dari dulu bercita-cita jadi sastrawan. Jadi Thor pengen mulai dari sekarang, yaitu buat FF. sebenernya Thor lagi buat novel sekarang, tapi tentu aja diimbangi FF yang seru. FF ini hasil dari otak Thor sendiri. Gak ada plagiat ataupun terinsprirasi. Cuman, keluar aja ide-ide kayak gini.
Happy Reading ^^

***

Aku suka Salju…

Muncul tiba-tiba sepertimu

Terkadang aku tidak mengetahuinya

Setelah itu aku akan selalu mencarimu

Mencari dan mencari

Sampai aku menemukanmu,

Salju…

***

Ruang Keluarga
-Goo House Family-
13 December 2012

Author POV

Noona Neomu Yeppeo…” muncul suara dari Televisi yang menyala-nyala memancarkan sinarnya, dengan serius Hara mengikuti gerakan demi gerakan yang ada di Televisi itu. Suara semakin keras, ya, karena Hara mengeraskan volumenya.

“Goo Hara~” teriak Li Ra dalam kamarnya.

“Nde eonni?” tanya Hara tanpa memalingkan matanya pada Televisi.

“Aku kan sudah katakan, satu minggu lagi kau harus mengikuti Tes Bakat di sekolah!” seru Li Ra.

“Nde eonni aku tau itu sejak dulu” jawabnya santai tanpa memalingkan pandangannya sekarang.

“Omo~ kau latihan?” tanya Li Ra dengan suara biasa, tampak sangat berbeda saat ia berseru keras dan berteriak melengking—dapat menghancurkan benda kaca yang ada disekitarnya.

Hara pun berhenti, lalu memandang Li Ra dengan wajah lelah. Lalu mengelap peluh yang bercucuran di pelipisnya serta di-dahinya. “Sekali-kali, eon. Aku ingin refreshing, bukan terus-menerus dipaksa latihan setiap hari setiap saat” jawab Hara dengan nafas tersenggal.

“Wae kau melihat video SHINee? Bukankah kau membenci mereka? Bahkan sampai berkelahi dengan Shawol” ucap Li Ra lalu menyodorkan botol air putih dingin.

“Eonni, aku sedang banyak pikiran sekarang…” jawab Hara sekenanya, karena dia benar-benar lelah.

“Kau menyukai salah satu dari mereka?” tanya Li Ra lalu mengangkat satu alisnya.

“Aniya~” jawab Hara memanjangkan jawabannya.

“Jincha?” tanya Li Ra memicingkan matanya.

“Aniya eon~” jawab Hara mengulangi jawabannya tadi.

“Tapi kau terlihat aneh. Kau membenci mereka, tetapi menggunakan lagu mereka untuk refreshing, sungguh mencurigakan” ucap Li Ra bak detektif professional.

“Ani, hanya saja aku masih bingung soal kemarin,” ucap Hara menunduk lalu mengingat kejadian kemarin—katanya.

“Kejadian kemarin? Kejadian apa? Oh, apa kau dicium mereka? Oh, atau kau berkelahi lagi dengan mereka? Oh, oh, coba kutebak lagi, apa mereka saling berebut dirimu?” tanya Li Ra tanpa jeda sedikitpun dari kata-katanya—lebih tepatnya tidak perlu ‘tanda tanya’.

“Eonni~ jangan berfikir yang aneh-aneh deh!” ucap Hara kesal melihat tingkah Li Ra yang sangat membosankan—baginya. Lalu meninggalkan Li Ra sendiri didepan Televisi yang masih menyala.

“Aku akan mengatakan ini semua pada Jinki~” teriak Li Ra dari luar kamar Hara.

Sontak Hara langsung membuka pintu dan melakukan adegan ‘smirk’ pada Li Ra. “Eonni~ jangan katakan itu~ aku tidak pernah menyukai satupun dari mereka!” teriak Hara lalu menyerbu Li Ra yang duduk santai di sofa.

Kantin
-Sworlt High School-
14 December 2013

Hara POV

“Jeongmalyo~?” tanyaku dengan suara tertekan karena kaget mendengar ucapan dari Hyun Soo.
“Tapi kau tau siapa namja itu?” tanyaku lagi.

Raut wajahku yang tadi penuh rasa penasaran berubah datar dan kecewa. Karena Hyun Soo menggeleng pelan.

Dialah namja yang sangat kucintai. Aku adalah temannya. Ya, sebatas teman. Tidak lebih, dan kupikir tidak akan pernah lebih. Dan dia tidak pernah merasakannya—lebih tepatnya aku adalah ‘pengagum rahasia’ sejak kelas 11.

 “Goo Hara” panggil seseorang. Suaranya sangat kukenal, Lee Jinki—lebih akrab dipanggil Onew. Dialah penyebab aku membenci SHINee. Didukung aksi ‘taekwondo’ dari Minho.

“Wae?” tanyaku santai lalu memicingkan mataku tajam.

“Tak kusangka, kau menyukai satu dari kami?” tanya Onew mengeluarkan ‘smirk’ tak kalah menakutkan dariku.

“Mwo?!” ucapku dengan nada tertekan. “Aish, pasti Li Ra eon” gumamku kecil. “Ekm, sepertinya kau salah dengar” ucapku mulai berdiri merasa tertantang olehnya.

“Kau bisa dan harus memanggilku ‘oppa’.” Ucap Onew dengan nada merendahkan.

“Mwo? Oppa? Oh, sepertinya kau lebih pantas dipanggil ‘anak bebek’.” Ucapku tak kalah merendahkan.

“Ah, terserahmu. Aku sedang tidak mood bertengkar denganmu. Sekarang katakan saja siapa yang kau sukai dari kami!” ucap Onew meninggikan suaranya.

“Aku kan sudah katakan bahwa aku membenci SHINee!” ucapku dengan nada tinggi serta tanpa jeda sedikitpun—persis kebiasaan Li Ra eonni.

“MWORAGO~” teriak histeris para Shawol.

“Cih,” aku memicingkan mataku pada para Shawol yang mengelilingiku serta SHINee itu. “Aku bilang ‘AKU MEMBENCI SHINEE’!!” ulangku dengan suara yang lebih keras sampai Hyun Soo yang dibelakangku—dapat kurasakan dia sedang menutup telinganya akibat suaraku yang melengking—seperti teriakan Li Ra eonni.

“Kau mau bertengkar lagi dengan kami, hah!” ucap salah seorang Shawol wanita dengan tubuh yang gemuk dan pipi yang menggembung—seperti banyak makanan dikedua pipinya.

“Aish, aku sedang tidak mau bertengkar dengan kalian semua” ucapku pada Shawol. “Dan kau! Onew! Jangan pernah mengulangi pertanyaan bodoh tadi!” ucapku mengalihkan pandanganku pada Onew yang berdiri—menampakkan wajah datar khasnya.
Aku segera pergi meninggalkan kantin saat itu juga.

“Goo” panggil seseorang. Aku mengabaikannya dan terus berjalan secepat yang aku bisa. “HARA!!” lalu namja bersuara itu menarik pundakku sehingga aku terpaksa berhenti.

Aku berbalik badan dengan malas, “Mwo..” aku menekan kata-kataku, setelah mengetahui Hyun Soo dengan wajah murka sedang dihadapanku. “Mwoya!” entah darimana keberanian membentak Hyun Soo—orang yang sangat kucintai.

“Kenapa kau melakukan itu?” tanyanya masih mempertahankan wajah murkanya—yang setiap orang melihatnya akan lari ketakutan—tidak denganku, aku terpaku tak berani menatap wajahnya yang setiap saat selalu kuanggap tampan.

“Melakukan apa? Aku tidak melakukan apapun” ucapku sambil mengangkat bahuku.

“Kau bilang tidak melakukan apapun? Kau tau, kau sangat memalukan. Kau bahkan tidak peka bahwa ada orang yang mencintaimu sedang melihatmu dengan tatapan kecewa, bahwa kau membencinya, bahkan amat membencinya” ucap Hyun Soo panjang seakan menyalahkanku.

“Mwo? Jadi kau menyalahkanku? Kau bahkan tidak memberitauku siapa namja itu, aku tau kau bohong, Hyun. Aku tau kau pasti mengetahui siapa namja yang menyukaiku tersebut, tapi kau berkata bahwa kau tidak tau siapa namja itu. Aku berharap kau masuk neraka sekarang juga, karena kau telah menjadi pengkhianat, andai saja namja yang menyukai itu langsung melihat ini, sungguh menyedihkan sekali ya!” ucapku panjang lebar tanpa jeda—lagi-lagi seperti Li Ra eonni.

“Terserahlah, intinya adalah, KAMU GAK PERNAH PEKA!”

Mataku terbelalak mendengarkan kata-kata sederhana itu. Rasanya sangat menusuk, bahkan menembus hatiku. Hatiku serasa dikoyak dan dihancurkan berkeping-keping. Baru saat dan kali ini, Hyun Soo, membentakku. Ya, dia membentakku, dengan sangat keras dan kasar. Aku, aku ingin sekali membalasnya.

“Kau yang tidak peka, Hyun” ucapku lirih seraya tertunduk. Aku tau Hyun Soo kemungkinan besar tidak akan tau, karena dia pasti sudah pergi.

Akupun segera berlari menuju kelas.

Lorong Kelas 12
-Sworlt High School-

“Kau yang tidak peka, Hyun. Aku itu sangat mencintaimu, kau tidak pernah menyadari itu. Kau tidak pernah dan tidak akan pernah menyadarinya. Aku jadi semakin benci dirimu! Benci! Benci!” ucapku berulang-ulang ditengah Lorong kelas 12. Disini tidak ada siapapun, ya, kelas 12 sedang ada kunjungan diluar sekolah.

“Hara~” panggil seorang namja. Suara itu menggema dalam lorong ini. Saat menggema melewati telingaku, rasanya tubuhku gemetar, aku merasakan suara manis itu, Nugu?

Aku segera menoleh, “Key? Waeyo?” tanyaku padanya, sedikit lembut, karena suaranya yang membuatku tenang.

“Ehm…” dia bergumam sebentar, mempertimbangkan apa yang akan dia katakan. “Apa kau menyukai Hyun Soo?” tanyanya kemudian.

Aku tersentak, aku diam sejenak, berfikir, apa yang harus kujawab. “Memang kenapa?” tanyaku kemudian, tanda mengiyakan.

Key terlihat tertunduk, “Aniya, gwenchana” ucapnya seraya pergi meninggalkanku sendiri di Lorong ini.

“Key!” panggilku.

“Ne, noona?” tanyanya berbalik badan menunjukkan wajah cerianya lagi.

“Apa kau tau siapa namja yang muncul kemarin lusa?” tanyaku dengan wajah serius, mendekati Key agar jelas mendengar jawabannya.

Dia tampak tertunduk lagi. Aku bingung, mungkin dia sama dengan Hyun Soo. Tidak mau memberitau siapa.

Itu lebih baik dari Hyun Soo, “Baiklah, kalau kau tau, tolong ucapkan banyak terima kasih padanya” ucapku demikian. Aku tidak akan membiarkan sosok Key yang ceria, ramah, dan baik menjadi namja yang pembohong seperti Hyun Soo. Jadi, aku harus cepat berbicara sebelum Key berbohong.

“Ne, Noona” ucapnya  lalu pergi lagi tanpa meninggalnya sapaan.

***

-Relacty Café-
16 December 2012

Aku memegang gelas. Lalu memandang keluar, melihat turunnya salju yang amat lebat. Aku kembali mengingat kejadian yang 4 hari yang lalu.

#FLASBACK ON#

Salju turun sangat lebat. Hara menghangatkan badannya di seberang Café Favoritenya, dan berdiri di bawah pohon, meminta pelukan hangat dari sang pohon. Tapi pohon tak bergidik, pohon itu sendiri sedang berusaha melindungi anak daunnya dari salju yang lebat nan dingin.

Hara pun merapatkan jaketnya yang tebal, memasukkan jari-jemarinya—yang terbalut sarung tangan—kedalam saku jaketnya. Ia mengingil seraya menggertakkan giginya, beberapa kali bibirnya yang sudah membiru itu tergigit pasangan giginya, ia tak merasakannya, dirasa ia sedang matirasa sekarang.

“Noona!” panggil sebuah suara. Suara yang menenangkan Hara saat itu. Hatinya yang dibalut dinginnya salju. Namja itu memeluk erat tubuh Hara yang lebih pendek tapi tak jauh. “Wajahmu pucat, kita harus segera pergi ke dokter” ucap namja itu setelah melihat wajah Hara yang pucat bak mayat hidup—bibirnya biru, kulitnya putih pucat, matanya tertutup, giginya menggertak tak menentu.

“Andweyo. Aku butuh pelukan hangat” ucap Hara membuka matanya sedikit, mata birunya itu memancarkan suatu permohonan besar.

Akhirnya namja itu pun kembali memeluk Hara yang masih kedinginan.

“N—nugu—ya?” tanya Hara terbata-bata akibat giginya yang tidak dapat dikendalikan.

“Kau tidak perlu tau, Noona. Jeongmal Saranghae” ucapnya seraya memeluk lembut dan mengelus-elus rambut Hara yang sebagian tertutup topi hangat.

Hara menyembunyikan wajahnya yang pucat kedalam dada Namja itu. Dan dia merasa lebih baik jika mendengar suaranya, “Kau, bisakah kau menyanyi untukku?” tanya Hara mendongak sedikit.

“Aku akan melakukan apapun untukmu, Noona”  ucap Namja itu kembali mengelus-elus rambut Hara dan membiarkan kepalanya bersandar pada dadanya. Lalu Namja itu mulai menyanyi merdu, membuat jiwa dan tubuh Hara tenang. Dia merasa sangat bahagia, tiba-tiba giginya sudah berhenti, salju mulai mereda.

#FLASHBACK OFF#

Aku mendengus panjang. “Nuguya..” gumamku lirih memandang kosong keluar Café. Lalu aku terpikir ide yang bagus. Aku tersenyum lebar saat Ide sangat bagus keluar dari benakku. Aku berjalan perlahan keluar Café. Berpura-pura tidak melihat kanan-kiri, hanya melirik sedikit, awalnya aku hanya menengadahkan tanganku dan membiarkan salju turun di telapak tanganku, sambil memastikan adakah namja yang memiliki tinggi dan bentuk badan yang khas, serta rambutnya, apalagi suaranya.

“Gomawo, Jonghyun” ucap sebuah suara.

Oh, dia ada! Gumamku keras.

Aku langsung mengalihkan pandanganku membelakanginya. Bisa kurasakan namja itu berhenti memperhatikan punggung dan rambutku yang bergelombang khas. Aku tidak memakai topi hangat, tidak memakai sarung tangan, dan itu kusengaja.

Aku segera berakting merasakan dinginnya serpihan salju yang jatuh dikepalaku. Dan itu memang benar-benar dingin. Aku segera menyebrang, lalu berdiri di depan pohon yang beberapa hari lalu kutempati.

Aku segera mencari sarung tanganku, bukan bagian dari acting, tetapi ini benar-benar dingin, aku tidak bisa menahannya. Aku mencari dan mencari, lalu akhirnya kutemuka sebelah. “Kemana sebelahnya?” tanyaku. Aku mencari dibawah tubuhku, barangkali jatuh dibawahku. Tapi tak ada. “Aish,” aku mendengus kesal. Lalu aku mengingat lagi dimana aku menaruh sarung tangan keduanya sebelum kumasukkan tas. “Café!” ucapku sedikit berteriak. Lalu segera menutup mulutku.

Aku berdiri di pinggir jalan. Oh, jalanan ramai sekali. Aku harus cepat mengambilnya sebelum salju tidak lebat lagi.

Jonghyun POV

Aku berdiri didepan mobil. Bersenandung merdu. Lalu pandanganku tertuju pada seorang gadis yang terlihat kebingungan cara menyebrang. Aku ingin membantunya, tapi, setelah tau siapa gadis itu—Goo Hara—ku kurung niatku itu.

Pandanganku berpindah pada Key yang mencoba menyebrang juga. Ah, aku sudah tau, pasti Key yang mau membantu Hara menyebrang. Setelah salah satu jalur sepi, Key segera mengambil sarung tangan yang hanya sebelah. Lalu kupandangi lagi, Goo Hara yang sedang kebingungan—juga sedang membawa sebelah sarung tangan.

Key segera membersihkan sarung tangan itu. Aku hanya memperhatikan Goo Hara—yang tiba-tiba menyebrang tanpa melihat apa yang akan menciumnya.

Aku segera berlari dan mendorong gadis itu menuju tepi.
Aku mencoba membuka mataku, aku memandangi wajah Hara yang tidak ada luka. Jarak wajah kami hanya 8 Centi Meter.

Sret…

Key menarik bahuku dan menjauhkan tubuhku pada Hara. “Ya! Apa-apaan kau ini, Jong? Kau tau kan pasti akan ada yang cemburu!” bentak Key tak terima.

Aku segera berdiri dan membantu Hara untuk berdiri juga. Wajahnya terlihat bingung, “Mianhamnida, Goo Hara” ucapku lalu membungkuk sopan.

“Kau tidak papa, Jong?” tanya Hara memperhatikan tubuhku yang berbalut jaket tebal dan celana yang jeans berbahan hangat.

“Ah, Gwenchana, Hara” jawabku lalu mundur satu langkah.

“Noona, ini sarung tanganmu” ucap Key lalu memberikan sarung tangan yang terjatuh di tengah jalan tadi. “Tadi sempat kotor karena terlindas roda mobil seseorang” jelasnya singkat.

“Gomawo, Key” Hara tersenyum ramah. Entahlah, kupikir itu adalah senyum paling ramah dan manis yang pernah Hara berikan pada seseorang. Aku tau dia seperti apa dihadapan kami—SHINee.

***

Ruang Kelas 12-A
-Sworlt High School-
17 December 2012

Author POV

Hara duduk mengayunkan kedua kakinya. Dia sibuk mencatat sesuatu. “Baiklah, rapat dimulai” ucapnya sendiri. Bangkunya ada dibelakang, jadi tidak masalah jika dia berisik disana. “Pertama, O-n-e-w” ucapnya lagi mengeja tulisannya. “Tidak ada yang mencurigakan” ucapnya kemudian. Lalu menulis huruf ‘X’ disebelah nama ‘Onew’.

“Hara!” panggil seseorang. Hara mengalihkan pandangan lalu memperhatikan yeoja berambut ikal itu menuju dirinya.

“Mwoya, eon? Aku sedang sibuk sekarang!” ucap Hara lalu mengetuk polpen ke buku catatannya.

“Onew! Onew!” teriak histeris Li Ra dengan wajah ‘sumigrah-nya.

“Wae Onew?” tanya Hara.

“Barusan dia meminta nomormu!” ucapnya pelan tapi terkesan sangat senang.

“Mwoya!” teriak Hara. Lalu memandangi buku catatannya yang nyaris kosong, “Sepertinya aku harus mencoret tanda ini” ucapnya lalu mencoret tanda ‘X’ pada nama ‘Onew’.

“Ahahahaha~” tawa Li Ra setelah melihat buku catatan Hara. “Goo Hara, saengku yang sangat kusayang, kenapa kau segitunya memikirkan namja saljumu itu?” ucap Li Ra diselangi tawaan kecilnya.

“Ini penting, eonni! Aku suka suaranya yang selalu membuatku tenang, aku suka…” ucapku lalu memelankan suaraku ketika Hyun Soo melewati bangkuku.

“Hahaha~ aku akan membantumu, saeng. Tenang saja, coba kau tulis statusmu dengan mereka, seperti hanya teman, atau teman curhat, dan yang lain” jelas Li Ra eonni mengambil kursi lalu duduk didepanku.

“Ah, itu benar! Pertama, Onew. Yang mencurigakan hanya tadi, tapi itu tidak mungkin dia! Aku tau suaranya itu bagus, tapi, suaranya bagaikan petir menyambar bukan menenangkanku, lagipula dialah penyebab aku membenci SHINee!” jelasku panjang lebar.

“Ehm, kau tau kan, ada pepatah mengatakan ‘benci jadi cinta’. Dan itu bisa terjadi pada kau dan Onew!” ucap Li Ra sambil mengacung-acungkan jari telunjuknya—mengingat kata-kata pepatah tersebut.

“Aish, lanjut saja dulu!” ucap Hara benci. “Kedua Jonghyun” ucap Hara. Dia langsung mengingat tragedi kemarin. “Dia juga mencurigakan,” ucap Hara.

“Mencurigakan? Jincha?” tanya Li Ra.

Hara mengangguk. Lalu menceritakan kejadian kemarin didepan Relacty Café. Tapi dengan suara pelan, supaya tidak ada yang mendengar, kalaupun bangkunya dibelakang, banyak yang melewati bangkunya—tepatnya disebut patokan bangku.

“Jadi kau hampir dicium Jong…” Li Ra berteriak tapi sebelum melanjutkan kata-katanya, tangan Hara segera membekap eonninya—yang terkenal heboh itu.

“Eonni!!” teriak Hara kesal.

“Eoh, mian-mian” ucap Li Ra akhirnya. “Kau benar-benar mengalamaniya? Oh, benar-benar menakjubkan!” ucap Li Ra kembali heboh.

“Eonni, aku serius!” ucap Hara semakin bosan.

“Kau serius? Jincha? Jeongmal? Wah, andaikan aku jadi dirimu, dan Jonghyun berubah menjadi Minho, oh aku akan segera menariknya dan membiarkannya menciumku” ucap Li Ra membayangkan hal.

“Ish, eonni, kau benar-benar pengimajinasi paling bodoh yang pernah kukenal” ucap Hara lalu memandangi keluar jendela.

“Apa katamu?” tanya suara khas Minho dari luar jendela.

“Oh~” Hara dan Li Ra segera menutup mulut mereka. “Aniya, gwenchana!” ucap Hara kemudian. Segeralah Minho pergi dari pandangan mereka. Lalu Hara dan Li Ra berpandangan, “Eonni, itu masalahmu” ucap Hara lalu segera menulis lagi.

“Selanjutnya, siapa? Key?” tanya Li Ra.

“Ah, entahlah aku tidak tau siapa yang lebih tua” ucap Hara menulis nama ‘Key’. “Kurasa dia berperan penting. Sepertinya dia tempat curhat namja itu, karena, saat kutanya dia tau atau tidak, dia tidak menjawab, kedua, tragedi kemarin, aku masih ingat dia mengatakan ‘Kau tau kan akan ada yang cemburu!’ dengan tegas kepada Jonghyun” jelas Hara panjang.

“Benar juga, kita perlu menyelidikinya lebih lanjut” ucap Li Ra menyuruh Hara menulis alasan itu. “Selanjutnya Minho. Kurasa kau tidak ada hubungannya dengannya, lewati sajalah!” ucap Li Ra—seakan-akan dirinya adalah tunangan Minho.

“Aish, siapapun dia, walaupun tidak ada hubungannya pun kita harus menyelidiki, eonni!” ucap Hara ketus.

“Baiklah, baiklah. Masih belum terbukti, maka, lanjut pada Taemin saja!” ucap Li Ra.

Hara mendengus kesal, “Ne. kurasa aku juga tidak ada hubungan dengan Taemin. Hanya saja, dulu aku adalah tempat curhatnya, dan dia pernah curhat padaku bahwa dia menyukai seorang yeoja, yang jelas itu bukan aku” ucap Hara langsung.

“Hmm… baiklah, hanya tiga orang yang dicurigai. Rapat selesai!” ucap Li Ra menutup rapat kecil mereka.

“Gamsha eonni sudah membantuku” ucap Hara.

“Ne. kajja ke kantin” ajak Li Ra.

Hara segera memasukkan seluruh pelaratannya kedalam tas, lalu mengikuti Li Ra.

Tiba-tiba Hyun Soo lewat sambil bersenandung merdu. Hara tak mempedulikannya, hanya terus memperhatikan lurus kedepan. Hara baru menyadari sesuatu segera menoleh dan memperhatikan punggung Hyun Soo yang menjauh, “Lagu itu” ucap Hara.

Li Ra ikutan menoleh, “Mwo? Lagu apa?” tanya Li Ra bingung.

“Lagu yang dinyanyikan Hyun Soo barusan adalah lagu namja itu saat dia menyanyikannya untukku!” jelas Hara lebih lanjut.

“Kurasa dia perlu dimasukkan buku catatan juga,” ucap Li Ra sambil mengangguk-angguk.

TBC~

Aneyong, masih banyak typo disini. Maklum-lah, author kan pembuat ff baru. Jadi  mohon maklum ya. Di shoot yang pertama ini dibuat panjang, karena author nyari adegan biar nanggung gitu. Hehehe, biar banyak yang nungguin deh jadinya. FF ini kutujukan untuk eonniku. Yang menjadi peran Goo Li Ra disini. Ya, aku tau dia adalah Fans Choi Minho SHINee. Sekalian saja, kuperankan cukup penting. Oiya, disini Author anggep kalo Key, Jonghyun, dan yang selain Onew lainnya itu umurnya dibawah Hara. Jadi Key manggilnya Noona, sementara Jonghyun enggak, soalnya Jonghyun ceritanya gak tau kalo dia lebih muda dari Hara.


Author sengaja buat cast SHINee. Ya, sekali-kali-lah. Pengennya sih EXO, tapi karena orangnya kebanyakan, nanti ber-chapter deh jadinya, haha. Oke, tinggalkan komentar ya, tolong kritik dan sarannya. 

Ini Fanfict sebenernya udah selesai, jadi 3 hari lagi Author share yang Shoot kedua ^^

Gomawo udah membaca =)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS